Jumat, 10 Mei 2013

Evolusi Manusia



BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Evolusi manusia atau  Anthropogenesis merupakan bagian dari evolusi biologi yang mengenai munculnya Homo sapiens. Ini merupakan subyek yang luas penyelidikan ilmiah yang berusaha memahami dan menjelaskan bagaimana perubahan ini terjadi. Studi dari evolusi manusia meliputi berbagai ilmu pengetahuan, terutama fisik antropologi, linguistik dan genetika (Wikipedia, 2012).
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7d/Taung's_child.jpg/220px-Taung's_child.jpg            Beberapa typological spesies Homo telah berkembang. Termasuk Homo erectus yang menghuni Asia dan Homo neanderthalensis yang menghuni Eropa. Archaic Homo sapiens berevolusi antara 400.000 dan 250.000 tahun yang lalu. Evolusi manusia telah berkembang lebih dari 6 juta tahun yang lalu. Dalam darwin The Origin of Species, yang di terbitkan tahun 1859, di jelaskan bahwa kemungkinan besar manusia berasal dari primata di afrika, tapi pada saat itu belum di temukan catatan fossil dari nenek moyang kita sampai pada tahun 1924 pada saat itu di temukan fossil Australopithecus africanus di africa yang berumur sekitar 4 juta tahun yang lalu, yang di berinama Taung child (Wikipedia, 2012).
           




Sejak  zaman Renaisance di abad 17 lalu, manusia memasuki “dunia baru”, dunia yang begitu  berbeda  dengan tatanan dunia sebelumnya. Alfin Tovler, futurolog yang membagi tiga tahapan perkembangan peradaban manusia, menyatakan bahwa manusia saat ini hidup di tengah periode masyarakat komunikasi yang berlangsung sejak 1970 hingga sekarang. Dalam kehidupan di dunia baru ini manusia mengalami proses transformasi – untuk tidak mengatakan revolusi seperti yang diistilahkan oleh Franz Magnis – yang begitu cepat dan mencengangkan. Hasil olah sains dan teknologi canggih yang diciptakan manusia  membuat sesuatu  menjadi mudah, tidak berjarak dan tidak tersekat oleh waktu dan tempat. Semuanya dapat dilampaui oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Hikmat Budiman dengan sinis menyatakan, bahwa canggihnya kehidupan modern belum, bahkan tidak terjangkau oleh mimpi-mimpi paling liar sekalipun pada masyarakat primitif (1997).
Kecanggihan ilmu pengetahuan sekarang ini membuka ruang dan cakrawala baru dalam tatanan peradaban kehidupan manusia. Betapa tidak, sesuatu yang dahulunya dianggap tabu, misteri dan merupakan wilayah metafisis bahkan teologis, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi riil dan lumrah. Sebagai contoh, sebut saja tentang penjelajahan manusia ke semesta lain, seperti perjalanan ke bulan  dengan hanya menggunakan pesawat ulang alik baik yang berawak maupun yang tidak; rekayasa genetika; teknologi informasi, komunikasi dan transportasi. Akan tetapi, betapapun manusia telah berhasil dan terus berhasrat melakukan eksplorasi dan menguak tabir misteri cosmic, termasuk dirinya, namun keberadaan manusia itu sendiri tetap saja menjadi misteri yang hingga kini, bahkan entah sampai kapan perlu diuangkap.
Berbagai penemuan baru super canggih produk ratio telah mampu merubah tatanan dan pola hidup yang dilakonkan manusia, termasuk paradigma kehidupannya. Perubahan dimaksud sekaligus telah menjadi pertanda keberhasilan manusia mengganti peran alam yang awalnya hadir sebagai mitra dalam kehidupan di semeta ini kini menjadi objek eksploitasi hanya dengan mengedepankan dalih demi kelangsungan hidup manusia dan demi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Seiring dengan perjalanan waktu, manusia semakin terpesona dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai produk kerja ratio. Bahkan ironisnya, hanya dikarenakan berbagai kemudahan dalam menjalankan aktivitas kehidupan sebagai tawaran dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian hari kian berkembang, manusia telah berani meniscayakan “ratio” yang terbukti telah berhasil menghadirkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga tanpa disadari seiring dengan itu pula ia telah mereduksi keniscayaan realitas lainnya termasuk agama dengan berbagai elemen spiritual yang terkandung di dalamnya.
Keterpesonaan akan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berakhir pada peniscayaan terhadap ratio membuat manusia memandang dan menghadirkan dunia dengan segala persoalannya sebagai realitas yang sederhana. Oleh Yasraf Amir Pilliang dunia seperti itu diistilahkan dengan dunia yang telah dilipat (2004). Hal ini disebabkan oleh kenyataan betapa kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat aktivitas hidup manusia semakin efektif dan efisien.
Dunia yang telah dilipat muncul sebagai konsekwensi dari kehadiran berbagai penemuan teknologi mutakhir terutama transportasi, telekomunikasi dan informasi,  jarak-ruang semakin kecil dan semakin sedikit waktu yang diperlukan dalam pergerakan di dalamnya, inilah pelipatan ruang-waktu. Adalagi pelipatan waktu-tindakan, yakni pemadatan tindakan ke dalam satuan waktu tertentu dalam rangka memperpendek jarak dan durasi tindakan, dengan tujuan mencapai efisiensi waktu. Dahulu manusia melakukan satu hal dalam satu waktu tertentu, seperti memasak, menyetir, membaca, menelepon dan lain-lain. Kini, manusia dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu bersamaan, menyetir mobil sambil menelepon, mendengar musik, makan dan sambil bicara.
Pada bagian lain ada pula miniaturisasi ruang-waktu, dimana sesuatu dikerdilkan dalam berbagai dimensi, aspek, sifat dan bentuk lainnya. Realitas ditampilkan melalui media gambar, fotografi, televisi, film, video, dan internet. Sebagaimana yang dikatakan oleh Paul Virilio yang dikutip Yasraf Amir Pilliang, bahwa ruang saat ini tidak lagi meluas, tetapi mengerut di dalam sebuah layar elektronik. Jika ingin mengetahui sesuatu yang riil, manusia dapat mencari dan menyaksikan melalui video, film, televisi. Ingin tahu mendetail tentang sang bintang idola, maka orang tinggal mengklik satu situs dalam internet, kemudian tampillah sang bintang dengan ragam tentang dirinya, dan seterusnya. Demikianlah di antara beberapa gambaran tentang pelipatan dunia oleh perkembangan teknologi mutakhir di bidang transportasi, komunikasi dan informasi.
BAB II
ISI

Istilah manusia modern anatomis (MMA) dalam paleoantropologi mengacu kepada individu awal dari Homo sapiens dengan suatu penampilan yang konsisten dengan rentang fenotipe pada manusia modern. Manusia modern anatomis berevolusi dari Homo sapiens purba pada masa Paleolitik Tengah, sekitar 200.000 tahun lalu. Munculnya manusia modern anatomis menandakan permulaan dari subspesies Homo sapiens sapiens, yaitu subspesies dari Homo sapiens yang mengikutkan semua manusia modern. Fosil tertua yang ada pada manusia modern anatomis adalah Omo remains, yang berusia 196.000 tahun yang terdiri dari dua tengkorak yang berbeda, dan juga tulang tangan, kaki, telapak kaki dan pinggang (Wikipedia, 2012).
Fosil yang lain termasuk Homo sapiens idaltu dari Herto di Etiopia yang berusia 150.000 tahun dan peninggalan dari Skhul di Israel yang berusia 90.000 tahun (Wikipedia, 2012).
Ø Anatomi







Manusia modern anatomis dibedakan dari leluhurnya langsung, Homo sapiens purba, lewat sejumlah fitur anatomis. Homo sapiens purba memiliki kerangka yang kokoh, mengindikasikan bahwa mereka hidup bergantung kepada fisik; ini bisa berarti bahwa manusia modern anatomis, dengan rangka yang ramping, menjadi lebih bergantung kepada teknologi daripada kekuatan fisik untuk memenuhi tantangan lingkungan (Aingindra, 2012).
Homo sapiens purba juga memiliki bubung alis (tonjolan lapisan tulang di atas rongga mata). Dengan munculnya manusia modern anatomis, bubung alis secara signifikan berkurang, dan pada manusia modern mereka, rata-rata, samar-samar terlihat. Fitur pembeda lainnya dari MMA adalah tonjolan dagu, sesuatu yang tidak ada pada Homo sapiens purba (Wikipedia, 2012).
MMA umumnya memiliki dahi vertikal dimana leluhur mereka memiliki dahi yang miring ke belakang. Menurut Desmond Morris, dahi yang vertikal pada manusia tidak hanya menaungi otak yang besar, tapi tonjolan dahi memainkan peran penting dalam komunikasi manusia lewat pergerakan alis mata dan kerutan kulit dahi (Wikipedia, 2012).
Ø Manusia Modern Awal







Omo, Hertho, Skhul, dan Peninggalan Jebel Qafzeh terkadang disebut dengan "Manusia Modern Awal" karena peninggalan kerangka mereka memperlihatkan campuran dari ciri-ciri purba dan modern. Skhul V, sebagai contohnya, memiliki bubung alis dan muka yang menonjol. Namun, tempat otak dari Skhul V berbeda dengan Neanderthal dan mirip dengan tempat otak pada manusia modern. Di Eropa, manusia modern awal adalah Cro-Magnon (Wikipedia, 2012).
Ø Asal Usul Manusia Modern Dari Afrika
Asal-usul manusia modern dari Afrika adalah model yang kini paling diterima dalam paleoantropologi untuk menggambarkan asal-usul dan penyebaran dini manusia modern. Teori ini disebut dalam pers bahasa Inggris model (Recent) Out-of-Africa ("keluar dari Afrika"), dan dalam dunia akademis model Recent single-origin hypothesis aatau RSOH ("hipotesa asal-usul tunggal yang baru"), Replacement Hypothesis ("hipotesa penggantian") dan Recent African Origin atau RAO ("asal-usul dari Afrika yang baru"). Hipotesa bahwa manusia memiliki asal-usul yang tunggal (monogenesis) pernah dirumuskan Charles Darwin dalam Descent of Man (1871). Paham ini bersifat spekulatif sampai tahun 1980-an, ketika dibenarkan oleh penelitian atas DNA mitokondria pada manusia masa kini, dipadukan dengan bukti-bukti yang didasarkan pada antropologi fisik atas spesimen kuno (Sains, 2012).
Penterjemahan genetika dan bukti fossil menunjuk bahwa perkembangan Homo sapiens purba menjadi manusia hanya terjadi diAfrika, antara 200 000 dan 150 000 lalu, bahwa anggota dari satu cabang dari Homo sapiens meninggalkan Afrika antara 125 000 dan 60 000 tahun lalu, dan bahwa dalam perjalanan waktu Homo sapiens tersebut menggantikan populasi manusia yang lebih dini seperti manusia Neanderthal dan Homo erectus. Asal-usul tunggal manusia modern di Afrika Timur adalah pandangan yang dipegang mayoritas masyarakat ilmiah. Ada teori yang berbeda mengenai apakah terjadi satu hijrah atau lebih. Dalam model penyebaran jamak termasuk teori Penyebaran Selatan, yang akhir-akhir ini mendapat dukungan dari bukti-bukti genetika, linguistik dan arkeologis. Sejumlah peneliti yang kian besar juga menduga bahwa "Afrika Utara yang lama diabaikan" adalah tempat asal awal manusia modern yang pertama berhijrah dari Afrika (Sains, 2012).
Teori saingan yang paling kuat adalah asal-usul multiregional manusia modern, yang melihat segelombang Homo sapiens berhijrah dari Afrika, kemudian berbaur dengan populasi Homo erectus setempat di beberapa kawasan bumi. Kebanyakan multiregionalis tetap melihat Afrika sebagai sumber utama keanekaragaman genetik manusia, namun memperkirakan peranan yang jauh lebih besar bagi pencampuran (Wikipedia, 2012).
Ø Asal Usul Manusia Modern
Sebagaimana yang biasanya diberikan, ada dua model utama mengenai subjek ini - Asal-usul terkini manusia modern dari Afrika dan evolusi multiregional. Perdebatan umumnya mempermasalahkan mengenai jumlah relatif penggantian atau kawin-silang yang terjadi di area di luar Afrika, saat gelombang manusia (atau leluhur manusia) keluar dari Afrika dan menempati area lainnya, dan pentingnya hubungan dari gelombang terbaru sebagai bandingan dengan gelombang yang lebih lama (Wikipedia, 2012)
Pandangan utama, yang dikenal dengan model asal terkini dari Afrika, memegang bahwa semua atau hampir semua perbedaan genetika manusia modern di seluruh dunia dapat ditelusuri kembali ke manusia modern anatomis pertama yang meninggalkan Afrika. Model ini didukung oleh beberapa garis bukti yang independen, seperti catatan fosil dan genetika (Sains, 2012).
Secara sejarah, kritik terhadap pandangan ini sering diberi tanda kurung mendukung "hipotesis multiregional", yang popularitasnya memudar sejak awal 1990-an. Beberapa kritik beralasan bahwa sejumlah garis keturunan genetika non-Afrika mampu bertahan hidup di beberapa tempat di belahan dunia lewat kawin-silang dengan manusia modern anatomis. Menurut versi kuat dari model multiregional berbagai populasi manusia di seluruh dunia sekarang akan memiliki materi genetika yang bertahan sampai sejauh manusia awal seperti Homo erectus. Sekumpulan besar data dalam Evolusi genetika manusia (Jobling, Hurles dan Tyler-Smith, 2004) mendukung kuat model "Keluar dari Afrika". Analisis dari orang-orang Eropa modern menyarankan bahwa tidak ada DNA mitokondria (garis keturunan langsung) yang berasal dari Neanderthal yang masih bertahan pada masa sekarang (Wikipedia, 2012).
Namun pengurutan terbaru dari gen Neanderthal dan Denisovan memperlihatkan beberapa pencampuran. Draf laporan pengurutan oleh Neanderthal Genome Project pada bulan Mei 2010 mengindikasikan beberapa bentuk hibridisasi antara manusia purba dan manusia modern telah terjadi setelah manusia modern muncul dari Afrika. Diperkirakan 1 dari 4 persen DNA pada orang Eropa dan Asia (yakni Prancis, Cina dan Papua proband) adalah non-modern, dan berbagi dengan DNA Neanderthal purba dan bukan dengan Sub-sahara Afrika (yaitu Yoruba dan San proband). Sementara orang Melanesia memiliki tambahan 1-6% berasal dari Denisovan (Wikipedia, 2012).
Secara praktisnya, kontroversi umumnya mengenai periode spesifik dan proposal spesifik untuk periode perkawinan-silang. Keberadaan dan pentingnya aliran gen dari Afrika secara umum diterima, sementara kemungkinan adanya kasus tertutup dari kawin-silang antara kedatangan orang sub-Sahara dan yang kurang "modern" pada zaman (mereka) pada beberapa tingkat dalam prasejarah tidak begitu kontroversial. Walau demikian, dan menurut penelitian genetika, manusia modern tampak telah kawin dengan "paling tidak dua grup" dari manusia purba Neanderthal dan Denisovan (Sains, 2012).
Ø Perilaku Manusia Modern
Ada banyak perdebatan mengenai apakah manusia modern anatomis paling awal berperilaku sama dengan yang baru atau manusia sekarang. Karakteristik perilaku manusia modern yang terbaru termasuk bahasa modern yang penuh, kapasitas untuk berpikir abstrak dan penggunaan simbolisme untuk mengekspresikan kreativitas kultural. Ada dua hipotesis yang menentang mengenai asal mula perilaku modern. Beberapa ahli beralasan bahwa manusia mencapai modernitas secara anatomis terlebih dahulu, sekitar 200 kya, dan selanjutnya mereka mengadopsi perilaku modern sekitar 50 kya. Hipotesis ini berdasarkan pada catatan fosil yang terbatas dari periode sebelum 50 kya dan melimpahnya artifak manusia yang ditemukan setelah 50 kya. Pendukung dari pandangan ini membedakan "manusia modern anatomis" dengan "manusia modern secara perilaku” (Wikipedia, 2012).
Pandangan yang berlawanan yaitu bahwa manusia mencapai perilaku dan anatomi modern secara bersamaan. Sebagai contohnya, pendukung dari pandangan ini beralasan bahwa manusia telah mengembangkan kerangka bentukan yang ringan selama transisi ke anatomi yang lebih modern, dan hal ini hanya dapat terjadi lewat meningkatnya kerjasama manusia dan penggunaan teknologi, ciri-ciri karakteristik dari perilaku modern (Wikipedia, 2012).
Modernisasi adalah sebuah keniscayaan sejarah yang pasti ada menyambangi sebuah peradaban manusia, tak perduli apakah ia menghendakinya atau tidak. Menurut Franz Magnis, modernisasi adalah satu revolusi kebudayaan paling dahsyat yang dialami manusia sesudah belajar bercocok tanam dan membangun rumah. Modernitas bagaikan air bah yang terus menerjang benteng-benteng kokoh mitologis masyarakat primitif  dan menggantinya dengan bangunan baru yang lebih rasional, kritis dan liberal. Modernisasi merupakan suatu proses raksasa menyeluruh dan global. Tak ada bangsa atau masyarakat yang dapat mengelak dari padanya.
Zaman Modern sendiri, masih menurut Franz Magnis, diawali dengan ditemukannya 3 hal penting yaitu penemuan dan pemakaian bubuk mesiu, mesin cetak dan kompas pada abad ke-15 M di Eropa. Ketiga hal inilah yang menjadi pra-syarat terciptanya  masyarakat modern berikutnya yang dimulai dari belahan dunia Eropa. Penemuan dan pemakain bubuk mesiu berarti titik akhir kekuasaan feodal yang dipusatkan dalam benteng-benteng feodalisme. Penemuan mesin cetak menandakan telah dimulainya proses transformasi ilmu pengetahuan sehingga dapat dikonsumsi oleh khalayak ramai, sehingga pengetahuan dan interprtasi kebenaran tidak lagi menjadi hak monopoli satu golongan tertentu. Dengan mesin cetak, pengetahuan baru yang ditemukan dari hasil eksplorasi para saintis dapat dipublikasikan secara lebih luas, dengan demikian pengetahuan menjadi inklusif karena dapat diakses oleh siapa saja. Kondisi ini memungkinkan percepatan perubahan dalam satu komunitas peradaban karena telah terjadi dinamisasi khususnya pada aspek peradaban intetektual. Di bagian lain, penemuan kompas mengisyaratkan bahwa navigasi mulai aman, sehingga dimungkinkan  melakukan perjalanan jauh guna menemukan, membuka dan menjelajah dunia baru.
Tiga penemuan inilah yang menjadi dasar bagi perkembangan peradaban manusia selanjutnya menjadi semakin dahsyat juga liar. Karena tiga penemuan ini jugalah kemudian lahir tiga gerakan yang menjadi landasan pembuka jalan ke dunia modern. Ketiga gerakan itu adalah gerakan kapitalisme dengan teknik modern yang memungkinkan  industrialisasi, subjektivitas manusia modern dan rasionalisme.
Dari ketiga gerakan di atas kemudian lahirlah modernisme sebagai anak dari karya intelektual manusia. Ia menggurita dalam tiap aspek kehidupan manusia. Banyak penemuan-penemuan ilmiah baru yang mencengangkan dan membelalakkan mata manusia awam. Dimulai dari penemuan Nicolaus Copernicus (1473-1543), seorang ilmuan yang mengumandangkan teori bahwa matahari sebagai pusat tata surya (helio sentris),  Johanes Kepler  (1571-1630) yang menemukan hukum gerak planet, Galileo Galilei (1564-1626), dan sederet nama-nama lainnya. Sejak abad ini, dimulailah satu proyek besar ambisius oleh masyarakat barat, yaitu apa yang mereka sebut dengan modernisasi.
Menurut Lawrence, secara terminologi kemoderenan dapat dipahami sebagai sebuah kondisi atau keadaan dimana muncul serangkaian perubahan dan peningkatan dalam kehidupan manusia, mulai dari sistem birokrasi, rasionalisasi, kemajuan dalam bidang teknis dan pertukaran global yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia era pra-modern. Lawrence berupaya mengambarkan modernisme sebagai “pencaharian otonomi individu,  menekankan pada perubahan nilai secara kuantitas, efisiensi dalam produksi, dan kekuatan serta keuntungan di atas simpati terhadap nilai-nilai tradisional atau lapangan pekerjaan dalam ruang publik maupun pribadi. Keberhasilan tersebut –technical capacities dan global exchange—merupakan konsekuensi material dari ideologi modernisme, yang kemudian memarginalisasikan peran agama. Dari sini kemudian muncul perdebatan dimana orang banyak mendudukkan modernisasi vis-a-vis  agama.
Ø Anomali Modernitas
Adalah hal yang tak terbantahkan, bahwa sains dengan penemuan-penemuan spektakulernya membawa berkah bagi kehidupan manusia berupa kemudahan dalam menjalankan aktivitas kehidupan. Saat ini kita dapat merasakan bahwa hampir semua pekerjaan dapat dikerjakan oleh mesin mulai dari yang paling berat, rumit dan sulit hingga yang paling sederhana, gampang dan mudah. Dalam tiap ritme kehidupan, kita selalu dikelilingi oleh mesin, seolah kita tidak bisa hidup tanpanya sebagaimana sebagai makhluk seorang makhluk sosial, kita tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya di sekeliling. Demikian adanya bahwa mesin memudahkan, membuai dan memanjakan kehidupan kita. Tetapi sekali lagi kita mesti ingat bahwa modernitas adalah produk ambigu manusia yang menghadirkan dua sisi berhadap-hadapan.
Di satu sisi, modernitas menghadirkan dampak positif dalam hampir seluruh konstruk kehidupan manusia. Namun pada sisi lain, juga tidak dapat ditampik bahwa modernitas punya sisi gelap yang menimbulkan akses negatif yang sangat bias. Dampak paling krusial dari modernitas menurut Budi Munawar Rahman, adalah terpinggirkannya manusia dari lingkar eksistensi (Komarudin Hidayat & Wahyu Nafis,1995). Menurutnya, manusia modern melihat segala sesuatu hanya berdasar pada sudut pandang pinggiran eksistensi. Sementara pandangan tentang spiritual atau pusat spritualitas dirinya, terpinggirkan. Makanya, meskipun secara material manusia mengalami kemajuan yang spektakuler secara kuantitatif, namun secara kualitatatif dan keseluruhan tujuan hidupnya, manusia mengalami krisis yang sangat menyedihkan. Dengan mengutip Schumacher dalam bukunya “A Guide for the perplexed”, manusia kemudian disadarkan melalui wahana krisis lingkungan, bahan bakar, ancaman terhadap bahan pangan dan kemungkinan krisis kesehatan.
Awal mula krisis eksistensial ini sebagaimana yang pernah ditulis oleh Huston Smith dalam bukunya “Kebenaran yang Terlupakan” adalah saat seorang filsuf Perancis Rene Descartes (1596-1650) mempublikasikan karyanya yang berjudul “Discourse on Method of Rightly Conducting the Reason and Seeking the Truth in the Science“. Dalam karyanya ini Descartes dengan jargon Cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada) ingin mengungkapkan bahwa alam adalah sesuatu yang terpisah dari manusia sebagai subjek berpikir. Tidak ada yang tidak dapat diketahui manusia jika ia mau menggunakan pikirannya. Menurut Hikmat Budiman, filsafat Descartes ini dipandang sebagai penghulu terjadinya cara berpikir dualisme, dimana ia telah menghadirkan sebuah distinksi atau perbedaan atau pemisahan antara subjek (res cogitant) sebagai yang berpikir dan objek (res extensa) yang berada di luar. Di antara keduanya dijembatani dengan ilmu pengetahuan alam atau wacana (ergo).  Hal ini berkonsekuensi pada terjadinya superioritas subjek terhadap objek, sesuatu dikatakan ada atau tidak ada, tergantung pada dipikirkan atau tidak dipikirkannya oleh subjek. Jika sebelumnya alam dikaitkan dengan eksistensi kekuasaan Yang Maha Agung (Tuhan) yang kemudian termanifestasi dalam figur totem, taboo, animisme, dinamisme bahkan agama, maka metodologi eklektis Cartesian kemudian menjadikan akal sebagai avant-garde eksistensi manusia di hadapan alamnya. Manusia dengan akalnya merasa mampu membedah alam, untuk kemudian menundukkannnya, sehingga alam hanya dijadikan sebagai objek yang dipikirkan (res extansa). Ini kemudiaan disebut oleh Imanuel Levinas, dijuluki sebagai egologi, yaitu ilmu pengetahuan yang berkutat dengan ego manusia. 
Kerangka filosofis tersebut yang kemudian mendudukkan alam (nature) sebagai subordinasi dari manusia atau inferior  vis a vis manusia (res cogitant).   Supremasi ilmu pengetahuan alam dan semangat aufklarung ini yang kemudian memunculkan semangat kapitalisme dan kemudian imperialisme.  Hal tersebut dapat kita pahami melalui persfektif teori sistem dunia dan teori ketergantungan. 
Pada persoalan lain, secara ekstrem sebenarnya modernitas mengancam eksistensi kemanusiaan. Betapa tidak, dengan ditemukan dan dipakainya bubuk mesiu pada akhir abad ke-15 lalu di Eropa, maka bermunculan senjata-senjata canggih pemusnah massal. Beberapa tragedi dalam lintasan sejarah  seperti pengeboman oleh tentara Amerika dengan bom atom di Nagashaki dan Hirosima, penggunaan gas sarin oleh sekte Aom Shinrikyu di stasiun kereta api bawah tanah yang menewaskan banyak orang, tragedi WTC dan masih banyak lagi peristiwa lainnya, ini  adalah ciri peperangan  pada abad modern yaitu memusnahkan secara massal. Mungkin kita juga masih diingatkan dengan peristiwa ledakan pabrik kimia di Bhopal, India, pada bulan September 1984, atau yang terjadi pada perusahaan nuklir di Chernobyl, di bekas Uni Soviet, pada bulan April 1986, semua menelan korban jiwa yang tidak sedikit.
Pada aspek lingkungan, kita juga mencatat betapa teknologi sangat tidak bersahabat dan mempunyai konstribusi signifikan terhadap kerusakan lingkungan. Lapisan ozon yang telah menipis akibat efek dari banyaknya rumah kaca dan polusi udara yang dihasilkan oleh pabrik serta kendaraan bermotor, hutan yang gundul, pantai yang mengalami abrasi, air sungai yang terkontaminasi dan lain sebagainya adalah akibat logis dari modernitas. Pada ranah ini, tidak hanya eksistensi manusia yang terancam tetapi juga alam secara makro. Sederhananya bahwa alam telah terekploitasi sedemikian bejadnya oleh interest rakus para individu penjelajah harapan dengan mengatasnamakan kepentingan kemanusiaan. Eksploitasi yang tidak logis dan berimbangan ini sejatinya telah merusak relasi arif antara meta cosmic, makro cosmic dan mikro kosmic yang dahulunya saling berdialektika dalam satu relasi interdependensi.
Lain lagi menurut Erich From dalam bukunya “The Revolution of Hop” bahwa dalam kehidupan manusia modern di tengah-tengahnya ada “hantu”. Terma hantu yang dipakai dan dimaksudkannya di sini adalah ilustrasi terhadap pola masyarakat  yang dimesinkan secara total, manusia adalah mesin yang mekanis. Totalitas kehidupannya dicurahkan untuk meningkatkan produksi dan konsumsi material, yang dalam prosesnya -lebih ironis- bahwa ia diarahkan oleh komputer-komputer (baca: mesin). Manusia tidak lagi berfungsi sebagai manusia yang utuh. Dalam  proses sosial semacam ini manusia  menjadi bagian dari mesin, diberi makan dan hiburan yang cukup, tetapi pasif, tidak hidup dan nyaris tanpa perasaan.  Semua persoalan dalam konteks ini ditinjau dari perspektif material, padahal menurut Plato, seorang filosof Yunani, manusia adalah konfigurasi dari dua realitas tak terpisahkan yakni fisik yang mengambil bentuk material dan psikis yang mengambil bentuk jiwa atau spirit. Artinya, mengabaikan atau memprioritaskan salah satunya sama artinya dengan menjadikan manusia bukan manusia sebenarnya.
Hal lain yang juga telah menjadi karakter manusia modern yang  materialistik oriented  adalah budaya pragmatisme dan hedonisme. Pragmatisme1 adalah cara pandang yang melihat sesuatu dari nilai manfaat yang dapat dihasil dari sesuatu. Jika ia bermanfaat secara praktis material, maka ia dianggap kebenaran yang bernilai. Demikian juga  dengan budaya hedonisme, totalitas kehidupan semuanya diorientasikan untuk sebuah kenikmatan. Kebahagiaan tertinggi adalah karena akumulasi yang banyak dari kenikmatan material, dan sebaliknya kesengsaraan adalah disebabkan manusia tidak menemukan kenikmatan. Motto yang paling terkenal dari kaum hedonis adalah “hidup untuk hari ini”. Dari sini dapat diasumsikan bahwa apa saja menjadi legal dan pantas demi sebuah kenikmatan. Pada proses selanjutnya dapat dipastikan bahwa akan terjadi peminggiran terhadap beberapa sisi dari kemanusian itu  sendiri, terutama persoalan moralitas juga etika.
Dalam ranah empiris kemudian dapat kita temukan betapa banyak hari ini penyakit-penyakit sosial yang terjadi di masyarakat, mulai dari pelecehan seksual, pemerkosaan, pengkonsumsian obat-obat terlarang, minuman keras, aborsi, perilaku sadisme dan perilaku-perilaku kriminal lainnya yang kesemuanya menghiasi wajah gelap modernitas. Itulah di antara beberapa anomali yang include dalam modernitas itu sendiri dimana kesemuanya ternyata sangat potensial untuk memberangus sisi-sisi eksistensial kemanusiaan. Sebagai kesimpulan sementara  dapat dikatakan, bahwa kemajuan secara kuantitatif material yang dicapai oleh modernitas, tidak diiringi dengan kemajuan kualitatif.  Modernitas dengan sederet anomalinya tersebut sedikit banyak telah mengabsurdkan beberapa sisi sejati dari manusia pemujanya. Absurditas inilah yang selanjutnya menyebabkan manusia modern salah orientasi dalam memaknai hakikat hidup yang ia jalani.
BAB III
PENUTUP

Sebagai akhir dari bentangan ini, penulis mencoba merefleksikan apa yang pernah ditawarkan oleh seorang  filsuf berkebangsaan Swiss Jean Jacques Rousseau (1712-1778) saat ia menjawab sebuah pertanyaan “Apakah kemajuan seni dan ilmu pengetahuan memberikan konstribusi terhadap pemurnian moralitas manusia?” Pertanyaan dalam sebuah sayembara ini ternyata bagi Rousseau membukakan kesadaran nalarnya bahwa terlalu banyak keganjilan yang terjadi dalam tata kehidupan masyarakat pada waktu itu. Hasil perenungannya di bawah pohon ternyata sangat mengejutkan banyak pihak. Ia katakan bahwa kemajuan dalam bidang seni juga ilmu pengetahuan sesungguhnya tidak membuat manusia semakin beradab alias tidak membuat moralitas manusia semakin murni (Russel,2004). Justru sebaliknya, bahwa kemajuan peradaban akal budi semakin membuat kehidupan manusia tercerabut dari keharmonisan yang sungguh merupakan watak awalnya. Dalam tulisan panjangnya ia mengatakan, bahwa klaim kemajuan peradaban bangsa Prancis saat itu semu belaka karena hanya kemajuan pada ranah material kuantitatif yang terjadi,  tetapi tidak  pada ranah kualitatif. Di antara indikatornya adalah bahwa raja (penguasa) semakin bar-bar melakukan eksploitasi pada rakyat dengan melakukan penarikan pajak secara semena-mena, sementara kalangan mereka sendiri terbebas dari beban tersebut. Wal hasil, kemajuan hanya dapat dinikmati segelintir kelompok saja yakni bagi mereka yang mempunyai akses kekuasaan juga kekayaan. Kesimpulannya bahwa kemajuan hanya membuat manusia semakin terperosok dalam keterasingan akan diri mereka yang sebenarnya.
Menurutnya, sebelum manusia membentuk komunitas dengan perangkat-perangkat yang terlembaga, kehidupan manusia berjalan sangat harmoni. Terjadi relasi yang saling ketergantungan antara manusia, alam dan Yang Kuasa. Pada dasarnya watak manusia secara alamiah adalah baik. Ia mempunyai sifat-sifat yang lugu, jujur, toleran dan bersahaja sebagai sifat yang tidak dibuat-buat. Tetapi kemudian karena muncul pelembagaan, mulailah secara perlahan klaim-klaim. Klaim hak milik, klaim kelompok paling benar, paling superior dan seterusnya. Di sinilah kemajuan menjadi tersangka sebagai biangkerok tercerabutnya sifat alamiah manusia yang adi luhung. Sebagai tawarannya, Rousseau mengajak untuk kembali ke alam (retoyr a la nature).
Dalam konteks kenestapaan manusia modern terhadap absurditas yang mereka rasakan, rasanya masih sangat relevan apa yang ditawarkan oleh Rousseau tersebut. Hanya saja, jika 257 tahun yang lalu Rousseau mengajak kembali ke alam, maka tawaran agar manusia berubah dalam rangka mengembalikan citra kemanusiaanya melalui kearifan nilai relegiusitas (spiritual) adalah konteks tawaran yang tepat  terhadap masalah keterpinggiran manusia moderen dalam lingkaran eksistensinya. Kembali kepada spiritualitas di tengah kepongahan modernitas adalah mengembalikan rasa kehadiran Yang Suci di tengah-tengah moralitas manusia yang sejatinya memang telah dititipkan oleh Yang Suci pada tiap diri manusia. Spiritualitas adalah infinite idea yang inheren dalam totalitas kemanusiaan manusia. Mengingkarinya berarti mengingkari kedirian sebagai seorang manusia.
Sejarah membuktikan tentang hal ini, bahwa manusia mustahil hidup tanpa nilai spiritual yang ia akui sebagai Yang Maha Agung, dan yang dapat memenuhi kebutuhan spiritual manusia itu hanya agama. Sistem ideologi apapun yang ditegakkan oleh manusia seraya menafikan kenyataan bahwa manusia tidak melulu materi pasti akan mengalami krisis bahkan kehancuran. Manusia mungkin dapat hidup dalam sistem yang baru, namun jiwanya tetap dikendalikan oleh fitrah-fitrah yang tidak dapat dijelaskan dan dipuaskan secara materialistik. Hanya agamalah yang dapat menjelaskan dan memuaskannya. Alih-alih berkehendak untuk tidak bertuhan dan tidak mengakui nilai-nilai metafisik, justru hal ini akan memunculkan satu sistem agama baru dimana sang penggagas menjadikan diri dan konsepnya sebagai tuhan. Tentu kita berpikir betapa primitif dan tidak jelasnnya ide ketuhan seperti ini. Tetapi seprimitif dan tidak jelas bagaimanapun ide tersebut, bahwa manusia tidak dapat menghindar dari ide tentang Tuhan.
Namun tidak semua agama relevan untuk ditawarkan pada masyarakat modern, hal ini disebabkan karena manusia modern yang sangat mengagungkan hasil pengembaraan intelektual tidak akan mudah menerima begitu saja suatu sistem kepercayaan.  Hanya agama yang tidak menafikan peran rasiolah yang akan bertahan disamping kemampuannya memenuhi kebutuhan spiritualitas yang tidak diberikan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Di samping itu watak masyarakat modern yang tanpa batas mengharuskan sebuah sistem ideologi – termasuk agama – yang dapat bertahan hanyalah yang dapat menghargai berbagai sistem ideologi lain yang berbeda. Inilah barangkali model keberagamaan masa akan datang yang menghadirkan sisi spiritualitas lebih dalam. Spiritualitas seperti inilah yang sejatinya memberikan bingkai secara idiologis kejatidirian manusia dari serangan kehampaan dan keterasingan yang ditawarkan oleh nilai modernitas. Tetapi manusia modern mesti hati-hati dan arif, karena tidak semua tawaran spiritualitas baru memuarakan pada puncak spiritualitas sebenarnya. Spiritualitas sekular misalnya, spiritualitas ini mengandung kesalahkaprahan karena menyandarkan rasa spiritual kepada sesuatu yang tidak pantas memberikan sandaran. Sesuatu yang Tak Terbatas, Tak Berhingga, Tak Terjangkau, Transenden, Wajah Suci dan lain sebagainya adalah beberapa simbol yang sebenarnya layak untuk itu.
Menghadirkan yang Transenden adalah kemestian di saat kenestapaan sedang kita alami. Persoalannya kemudian adalah apakah kita mau jujur  menghadirkan spirit yang Transenden tersebut, karena ia sungguh telah hadir dengan sendirinya disaat bersaman kita menjadi manusia.
DAFTAR PUSTAKA

Franz Magnis Suseno, 1995, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Cet. IV, Yogyakarta : Kanisius.
FROMM, Erich,  1996, The Revolution of Hope, terj. Kamdani, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Hikmat Budiman, 1997, “Pembunuhan  yang selalu gagal”,  Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Komaruddin Hidayat & Wahyuni Nafis, 1995, “Agama Masa Depan, perspektif filsafat perennial”, Jakarta  : Paramadina.

Listiyono Santoso, dkk., 2003, Epistimologi Kiri, Yogyakarta : Ar-Ruzz.

NAISBITT, John, Patricia Aburdene, 1990, “Megatrends 2000 (Ten new directions for the 1990’s)”,  New York Avon book.

Nurcholish Madjid, 1995, Islam Doktrin dan Peradaban,  Jakarta : Paramdina.

RUSSELL, Bertrand, 2004, Sejarah Filsafat Barat; Kaitannya Dengan Kondisi Sosio-politik Zaman Kuno Hingga Sekarang, terj. Sigit Jatmiko dkk., Yogyakarta : Pustka Pelajar.

SMITH, Huston, 2001, Kebenaran yang Terlupakan Kiritik atas Sains dan Modernitas, terj. Inyiak Ridwan Muzir,  Yogyakarta : IRCiSoD.

TITUS, Harold H., etc., 1984, Persoalan-persoalan Filsafat, terj. Rasidi, Jakarta  : Bulan Bintang.

Wikipedia, 2012. Evolusi Manusia Modern. http://id.wikipedia.org.evolusi-manusia-modern, diakses pada tanggal 26 November 2012, pukul 20.00 WITA.

Yasraf Amir Pilliang, 2004, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan, Yogyakarta : Jalasutra.

Zakiyah Darajad, 1976, Membina Nilai-nilai Moral di Indonesia, Jakarta : Bulan Bintang.




HISTOLOGI SISTEM PENCERNAAN DAN REPRODUKSI



BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Sistem pencernaan terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar-kelenjar pencernaan. Fungsi sistem pencernaan adalah memperoleh zat-zat makanan yang dibutuhkan bagi tubuh. Saluran pencernaan umumnya mempunyai sifat struktural tertentu yang terdiri atas 4 lapisan utama yaitu lapisan mukosa, submukosa, lapisan otot, dan lapisan serosa (Junqeira dan Jose, 1980).
Saluran pencernaan makanan terdiri dari mulut, kerongkongan (esophagus), lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Serta organ tambahan yang terdiri dari gigi, lidah, kelenjar ludah, kandung empedu, hati, dan pankreas (Adyana, 2002).
Sistem reproduksi ada 2 yaitu sistem reproduksi pada wanita dan sistem reproduksi pada pria. Sistem reproduksi pada wanita dan pria ini berbeda tetapi memiliki fungsi yang sama.
BAB II
ISI

A.  Sistem Pencernaan
Saluran pencernaan umumnya mempunyai sifat struktural tertentu yang
terdiri atas 4 lapisan utama yaitu (Junqeira dan Jose, 1980) :
1.    Lapisan mukosa terdiri atas :
a.    epitel pembatas
b.    lamina propria yang terdiri dari jaringan penyambung jarang yang kaya akan pembuluh darah kapiler dan limfe dan sel-sel otot polos, kadang-kadang mengandung juga kelenjar-kelenjar dan jaringan limfoid, dan
c.    muskularis mukosae.
2.    Submukosa terdiri atas jaringan penyambung jarang dengan banyak pembuluh darah dan limfe, pleksus saraf submukosa (juga dinamakan Meissner), dan kelenjar-kelenjar dan/atau jaringan limfoid.
3.    Lapisan otot tersusun atas:
a.    sel-sel otot polos, berdasarkan susunannya dibedakan menjadi 2 sub lapisan menurut arah utama sel-sel otot yaitu sebelah dalam (dekat lumen), umumnya tersusun melingkar (sirkuler), pada sublapisan luar, kebanyakan memanjang (longitudinal).
b.    kumpulan saraf yang disebut pleksus mienterik (atau Auerbach), yang terletak antara 2 sublapisan otot.
c.    pembuluh darah dan limfe.
4.    Serosa merupakan lapisan tipis yang terdiri atas :
a.  jaringan penyambung yaitu jaringan yang kaya akan pembuluh darah dan jaringan adiposa; dan
b. epitel gepeng selapis (mesotel).
Fungsi utama epitel mukosa saluran pencernaan adalah:
1.    Menyelenggarakan sawar (pembatas), bersifat permeabel selektif antara isi saluran dan jaringan tubuh.
2.    Mempermudah transpor dan pencernaan makanan
3.    Meningkatkan absorpsi hasil-hasil pencernaan (sari-sari makanan).
Berikut beberapa organ yang berperan dalam sistem pencernaan:












1.    Rongga Mulut
Rongga mulut (pipi) dibatasi oleh epitel gepeng berlapis tanpa tanduk. Atap mulut tersusun atas palatum keras (durum) dan lunak (molle), keduanya
http://blog.uad.ac.id/lusiana/files/2011/12/mulut.jpg,http://www.vetmed.vt.edu/education/curriculum/vm8054/labs/Lab25/IMAGES/MOUSE%20NOSE%201.jpg 








diliputi oleh epitel gepeng berlapis. Uvula palatina merupakan tonjolan konis yang menuju ke bawah dari batas tengah palatum lunak.
2.    http://www.histol.chuvashia.com/images/digestive/tongue-02-l.jpghttp://www.histology.leeds.ac.uk/oral/assets/tongue.gifLidah








Lidah merupakan suatu massa otot lurik yang diliputi oleh membran mukosa. Serabut-serabut otot satu sama lain saling bersilangan dalam 3 bidang, berkelompok dalam berkas-berkas, biasanya dipisahkan oleh jaringan penyambung. Pada permukaan bawah lidah, membran mukosanya halus, sedangkan permukaan dorsalnya ireguler, diliputi oleh banyak tonjolan-tonjolan kecil yang dinamakan papilae. Papilae lidah merupakan tonjolan-tonjolan epitel mulut dan lamina propria yang diduga bentuk dan fungsinya berbeda. Terdapat 4 jenis papilae yaitu :
1.    Papilae filiformis: mepunyai bentuk penonjolan langsing dan konis, sangat banyak, dan terdapat di seluruh permukaan lidah. Epitelnya tidak mengandung puting kecap (reseptor).
2.    Papilae fungiformis menyerupai bentuk jamur karena mereka mempunyai tangkai sempit dan permukaan atasnya melebar. Papilae ini, mengandung puting pengecap yang tersebar pada permukaan atas, secara tidak teratur terdapat di sela-sela antara papilae filoformis yang banyak jumlahnya.
3.    Papilae foliatae, tersusun sebagai tonjolan-tonjolan yang sangat padat sepanjang pinggir lateral belakang lidah, papila ini mengandung banyak puting kecap.
4.    Papilae circumfalatae merupakan papilae yang sangat besar yang permukaannya pipih meluas di atas papilae lain. Papilae circumvalate tersebar pada daerah “V” pada bagian posterior lidah. Banyak kelenjar mukosa dan serosa (von Ebner) mengalirkan isinya ke dalam alur dalam yang mengelilingi pinggir masing-masing papila. Susunan yang menyerupai parit ini memungkinkan aliran cairan yang kontinyu di atas banyak puting kecap yang terdapat sepanjang sisi papila ini. Aliran sekresi ini penting untuk menyingkirkan partikel-partikel dari sekitar puting kecap sehingga mereka dapat menerima dan memproses rangsangan pengencapan yang baru. Selain kelenjar-kelenjar serosa yang berkaitan dengan jenis papila ini, terdapat kelenjar mukosa dan serosa kecil yang tersebar di seluruh dinding rongga mulut lain-epiglotis, pharynx, palatum, dan sebagainya-untuk memberi respon terhadap rangsangan kecap.
3.    http://histology.med.umich.edu/sites/default/files/DG2pract4_low.jpgPharynx







Pharynx merupakan peralihan ruang antara rongga mulut dan sistem
pernapasan dan pencernaan. Ia membentuk hubungan antara daerah hidung dan
larynx. Pharynx dibatasi oleh epitel berlapis gepeng jenis mukosa, kecuali pada
daerah-daerah bagian pernapasan yang tidak mengalami abrasi. Pada daerah-daerah yang terakhir ini, epitelnya toraks bertingkat bersilia dan bersel goblet. Pharynx mempunyai tonsila yang merupakan sistem pertahanan tubuh. Mukosa pharynx juga mempunyai banyak kelenjar-kelenjar mukosa kecil dalam lapisan jaringan penyambung padatnya.
4.    http://legacy.owensboro.kctcs.edu/gcaplan/anat2/histology/esophagus3.jpgOesofagus





Bagian saluran pencernaan ini merupakan tabung otot yang berfungsi menyalurkan makanan dari mulut ke lambung. Oesofagus diselaputi oleh epitel berlapis gepeng tanpa tanduk. Pada lapisan submukosa terdapat kelompokan
kelenjar-kelenjar oesofagea yang mensekresikan mukus. Pada bagian ujung distal oesofagus, lapisan otot hanya terdiri sel-sel otot polos, pada bagian tengah, campuran sel-sel otot lurik dan polos, dan pada ujung proksimal, hanya sel-sel otot lurik.
5.    https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjID64YCKLIKj4fNM6il6CkrAwqG_n8UxtYHszdbV-wuorg3ma8majG6mp6MnCFSrm9gyQZFlQwWg2f0n1I0bO1-A38DDsD_viDFk7AhIfVU3bJNmlo00KNWP0kjK4qOlCjDbjnd4lqBDs/s320/histologi+gaster.jpgLambung









Lambung merupakan segmen saluran pencernaan yang melebar, yang fungsi utamanya adalah menampung makanan yang telah dimakan, mengubahnya menjadi bubur yang liat yang dinamakan kimus (chyme). Permukaan lambung
ditandai oleh adanya peninggian atau lipatan yang dinamakan rugae. Invaginasi
epitel pembatas lipatan-lipatan tersebut menembus lamina propria, membentuk alur mikroskopik yang dinamakan gastric pits atau foveolae gastricae. Sejumlah
kelenjar-kelenjar kecil, yang terletak di dalam lamina propria, bermuara ke dalam
dasar gastric pits ini. Epitel pembatas ketiga bagian ini terdiri dari sel-sel toraks
yang mensekresi mukus. Lambung secara struktur histologis dapat dibedakan
menjadi: kardia, korpus, fundus, dan pylorus.
6.    Daerah Kardia
Kardia merupakan peralihan antara oesofagus dan lambung. Lamina proprianya mengandung kelenjar-kelenjar kardia turbular simpleks bercabang, bergelung dan sering mempunyai lumen yang besar yang berfungsi mensekresikan mukus. Kelenjar-kelenjar ini strukturnya sama seperti kelenjar kardia bagian terminal oesofagus dan mengandung (dan mungkin sekresi) enzim lisosom.
7.    Korpus dan Fundus
Lamina mukosa tersusun atas 6 jenis sel yaitu:
a.       sel-sel mukus istmus terdapat dalam bagian atas kelenjar pada daerah peralihan antara leher dan gastric pit. Sel-sel ini mengsekresi mukus netral yang membatasi dan melindungi permukaan lambung dari asam.
b.      sel-sel parietal (oksintik) terutama terdapat pada bagian setengah atas kelenjar dan tersisip antara sel-sel mukus leher. Sel parietal merupakan sel bulat atau piramidal dengan inti sferis di tengah dan sitoplasma yang jelas eosinofilik. Sel-sel parietal menghasilkan asam klorida (HCl) yang terdapat dalam getah lambung. Pada kasus gastritis atrofikans, sel parietal dan chief cells keduanya jumlahnya berkurang, dan getah lambung mempunyai sedikit atau tidak mempunyai aktivitas pepsin. Asam yang disekresi berasal dari klorida-klorida yang terdapat dalam darah di tambah kation (H+) yang berasal dari kerja suatu enzim-anhidrase karbonat. Anhidrase karbonat bekerja pada CO2 untuk menghasilkan asam karbonat, yang berdisosiasi menjadi bikarbonat dan satu H+. Kedua kation dan ion klorida secara aktif ditanspor melalui membran sel sedangkan air akan berdifusi secara pasif mengikuti perbedaan tekanan osmotik.
c.       sel-sel mukus leher terdapat dalam kelompokkan atau sel-sel tunggal antara sel-sel parietal dalam leher kelenjar gastrik. Sekret sel mukus leher adalah mukus asam yang kaya akan glikosaminoglikans.
d.      chief cells (sel zimogenik) mensintesis dan mengeluarkan protein yang mengandung enzim inaktif pepsinogen. Bila granula pepsinogen dikeluarkan ke dalam lingkungan lambung yang asam, enzim diubah menjadi enzim proteolitik yang sangat aktif yang disebut pepsin.
e.       sel-sel argentafin juga dinamakan sel-sel enterokromafin karena afinitasnya terhadap garam kromium serta perak. Sel-sel ini jumlahnya lebih sedikit dan terletak pada dasar kelenjar, terselip antara sel-sel zimogenik.
f.       sel-sel yang menghasilkan zat seperti glukagon.. Sel-sel endokrin lain yang dapat digolongkan sebagai sel-sel APUD (amine precursor uptake and decarboxyllation) menghasilkan hormon Gastrin.
8.    Pilorus
Pada pilorus terdapat kelenjar bergelung pendek yang mensekresikan enzim lisosim. Diantara sel-sel mukus ke lenjar pilorus terdapat sel-sel gastrin (G) yang berfungsi mengeluarkan hormone gastrin. Gastrin berfungsi merangsang
pengeluaran asam lambung oleh kelenjar-kelenjar lambung. Muskularis mukosae lambung terdiri atas 2 atau 3 lapisan otot yang tegak lurus menembus ke dalam laminan propria. Apabila otot berkontraksi akan mengakibatkan lipatan pada permukaan dalam organ yang selanjutnya akan menekan kelenjar lambung dan mengeluarkan sekretnya.
9.    Pergantian (turnover) Mukosa Lambung
Selain untuk mengganti sel-sel epitel yang mengelupas setiap hari, membran mukosa lambung dapat mengalami regenerasi bila cedera. Aktivitas
mitosis terutama dilakukan oleh sel-sel leher kelenjar. Kecepatan pembaharuan selsel epitel ini sekitar 5 hari. Epitel pembatas lambung hidupnya singkat, dan sel-sel terus menerus mengelupas dalam lumen. Sel-sel ini dengan lambat berdiferensiasi menjadi sel partietal dan chief cells (sel zimogenik).
10.    Usus Halus


http://legacy.owensboro.kctcs.edu/gcaplan/anat2/histology/jen.jpg
 









Usus halus relatif panjang  kira-kira 6 m dan ini memungkinkan kontak
yang lama antara makanan dan enzim-enzim pencernaan serta antara hasil-hasil
pencernaan dan sel-sel absorptif epitel pembatas. Usus halus terdiri atas 3 segmen yaitu duodenum, jejunum, dan ileum.
Membran mukosa usus halus menunjukkan sederetan lipatan permanen
yang disebut plika sirkularis atau valvula Kerkringi. Pada membran mukosa terdapat lubang kecil yang merupakan muara kelenjar tubulosa simpleks yang
dinamakan kelenjar intestinal (kriptus atau kelenjar Lieberkuhn). Kelenjarkelenjar intestinal mempunyai epitel pembatas usus halus dan sel-sel goblet (bagian atas).
Mukosa usus halus dibatasi oleh beberapa jenis sel, yang paling banyak
adalah sel epitel toraks (absorptif), sel paneth, dan sel-sel yang mengsekresi polipeptida endokrin.
1.    Sel toraks adalah sel-sel absorptif yang ditandai oleh adanya permukaan apikal yang mengalami spesialisasi yang dinamakan ”striated border” yang tersusun atas mikrovili. Mikrovili mempunyai fungsi fisiologis yang penting karena sangat menambah permukaan kontak usus halus dengan makanan. Striated border merupakan tempat aktivitas enzim disakaridase usus halus. Enzim ini terikat pada mikrovili, menghidrolisis disakarida menjadi monosakarida, sehingga mudah diabsorbsi. Di tempat yang sama diduga terdapat enzim dipeptidase yang menghidrolisis dipeptida menjadi unsur-unsur asam aminonya. Fungsi sel toraks usus halus lebih penting adalah mengabsorbsi zat-zat sari-sari yang dihasilkan dari proses pencernaan.
2.    Sel-sel goblet terletak terselip diantara sel-sel absorpsi, jumlahnya lebih sedikit dalam duodenum dan bertambah bila mencapai ileum. Sel goblet menghasilkan glikoprotein asam yang fungsi utamanya melindungi dan melumasi mukosa pembatas usus halus.
3.    Sel-sel Paneth (makrofag) pada bagian basal kelenjar intestinal merupakan sel eksokrin serosa yang mensintesis lisosim yang memiliki aktivitas antibakteri dan memegang peranan dalam mengawasi flora usus halus.
4.    Sel-sel endokrin saluran pencernaan. Hormon-hormon saluran pencernaan antara lain: sekretin, dan kolesistokinin (CCK). Sekretin berperan sekresi cairan pankreas dan bikarbonat. Kolesistokinin berperan merangsang kontraksi kandung empedu dan sekresi enzim pankreas. Dengan demikian, aktivitas sistem pencernaan diregulasi oleh sistem saraf dan hormon-hormon peptida.
11.    Lamina propria sampai serosa
Lamina propria usus halus terdiri atas jaringan penyambung jarang dan
pembuluh darah dan limfe, serabut-serabut saraf, dan sel-sel otot polos. Tepat di
bawah membrana basalis, terdapat lapisan kontinyu sel-sel limfoid penghasil
antibodi dan makrofag, membentuk sawar imunologik pada daerah ini. Lamina
propria menembus ke dalam inti vili usus, bersama dengan pembuluh darah dan
limfe, saraf, jaringan penyambung, miofibroblas, dan sel-sel otot polos. Bercak
PEYERI (Peyer’s path). Submukosa pada bagian permulaan duodenum terdapat kelenjar-kelenjar tubulosa bercabang, bergelung yang bernuara ke dalam kelenjar intestinal yang disebut kelenjar duodenum (Brunner), yang berfungsi menghasilkan glikoprotein netral untuk menetralkan HCl lambung, melindungi mukosa duodenum terhadap pengaruh asam getah lambung, dan mengubah isi usus halus ke pH optimal untuk kerja enzim-enzim penkreas. Sel-sel kelenjar Brunner mengandung uragastron yaitu suatu hormon yang menghambat sekresi asam klorida lambung. Disamping kelenjar duodenum, submukosa usus halus sering mengandung nodulus limfatikus. Pengelompokkan nodulus ini membentuk struktur yang dinamakan bercak Peyer.
12.    Pembuluh dan saraf usus halus
Pembuluh darah yang memberi makan usus halus dan berperanan menyingkirkan hasil-hasil pencernaan yang diabsorpsi menembus lapisan otot dan
membentuk pleksus yang luas dalam submukosa. Dari submukosa, cabangcabangnya meluas ke lapisan otot, lamina propria, dan vili. Tiap-tiap vilus
menerima, menurut ukurannya, satu cabang atau lebih yang membentuk jala-jala
kapiler tepat di bawah epitel. Pada ujung vili, terbentuk satu venula atau lebih dari
kapiler-kapiler tersebut dan berjalan dengan arah yang berlawanan, mencapai venavena pleksus submukosa. Pembuluh-pembuluh limfe usus halus mulai sebagai tabung buntu dalam inti vili. Struktur ini, di samping lebih besar dari kapiler darah, sukar ditemukan karena dindingnya seringkali kolaps. Pembuluh-pembuluh ini berjalan ke daerah lamina propria di atas muskularis mukosae, di mana mereka membentuk pleksus. Dari sisni mereka menuju ke submukosa, dimana mereka mengelilingi nodulus limfe. Pembuluh-pembuluh ini beranastomosis dengan cepat dan meninggalkan usus halus bersama dengan pembuluh darah.
Persarafan usus halus terutama dibentuk oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik. Komponen intrinsik dibentuk oleh kelompokan neuron-neuron yang membentuk pleksus mesenterikus (Auerbach), terdapat antara lapisan otot luar longitudinal dan lapisan otot dalam yang sirkuler dan pleksus submukosa (Meissner) dalam lapisan submukosa. Pleksus-pleksus mengandung beberapa nauron sensoris yang menerima informasi dari ujung-ujung saraf dekat lapisan epitel dan dalam lapisan otot polos mengenai susunan isi usus halus (kemoreseptor) dan dinding usus halus (mekanoreseptor). Sel-sel saraf lain adalah efektor dan mempersarafi lapisan otot dan sel-sel yang mengsekresi hormon. Persarafan intrinsik yang dibentuk oleh pleksus-pleksus ini bertanggung jawab akan kontrkasi usus halus yang terjadi pada keadaan di mana persarafan ekstrinsik tidak ada sama sekali (total). Persarafan ekstrinsik dibentuk oleh serabut-serabut saraf kolinergik parasimpatis preganglionik yang merangsang aktivitas otot polos usus halus dan oleh serabut-serabut saraf  simpatis postganglionik yang menekan aktivitas otot polos usus halus.
13.    Histofisiologi
Dalam usus halus, proses pencernaan diselesaikan dan hasil-hasilnya diabrsorpsi. Pencernaan lipid terutama terjadi sebagai akibat kerja lipase pankreas dan empedu. Pada manusia, sebagian besar absorpsi lipid terjadi dalam duodenum dan jejenum bagian atas. Asam-asam amino dan monosakarida yang berasal dari pencernaan protein dan karbohidrat diabsorpsi olah sel-sel epitel oleh transport
aktif tanpa korelasi morfologis yang dapat dilihat.
Proses lain yang mungkin penting akan fungsi usus halus adalah pergerakan berirama vili. Ini akibat kontraksi dari 2 sistem sel yang terpisah. Sel-sel otot polos berjalan vertikal antara muskularis murkosae dan ujung vili dapat berkontrkasi dan memeprpendek vili.
14.    Usus Besar
Usus besar terdiri atas membran mukosa tanpa lipatan kecuali pada bagian
distalnya (rektum) dan tidak terdapat vili usus. Epitel yang membatasi adalah
toraks dan mempunyai daerah kutikula tipis. Fungsi utama usus besar adalah:
1. untuk absorpsi air dan pembentukan massa feses,
2. pemberian mukus dan pelumasan permukaan mukosa, dengan demikian banyak sel goblet.
15. Sel-sel endokrin saluran pencernaan.
Saluran pencernaan mengandung sel-sel pembentuk polipeptida endokrin
(hormon) berikut: sekretin, glukagon, somatostatin, dan peptida menghambat
lambung. Kolesistokinin – hormon yang dihasilkan oleh mukosa usus halus dan
secara fisiologis penting untuk merangsang kontraksi kandung empedu dan sekresi pankreas. Aktivitas sistem pencernaan diawasi oleh sistem saraf dan diatur oleh sistem hormon-hormon.
B.  Sistem Reproduksi
*   Sistem Reproduksi Jantan
Sistem reproduksi jantan meliputi :
1.    Kelenjar utama yang dinamakan testis, 
2.    Saluran-saluran reproduksi  jantan antara lain :
-          Saluran intratestis (tubuli rekti,  rete testis,  vas eferens dan epididimis),
-          Saluran ekstra testis (vas deferens dan urethra)
3.    Kelenjar-kelenjar tambahan meliputi :  kelenjar vesika seminalis,  kelenjar prostat dan kelenjar bulbouretralis
4.    https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIrIpQLHE2CKfa-LsHHPkUQ6VgeHWGYq3xXi81iKHEKuskBSCP0Y1U-xBH-jb7QiZW8J551UBivQV4CVNwAIWwLRLNhvGnUYsd-W8AU6E2AQcky26p8uC8A5-XPo6SBsKWokQNcon5er3u/s1600/Corel141.jpgOrgan genitalia eksterna yaitu penis dan skrotum.




Ø Histologi Testis
Testis merupakan kelenjar tubuler kompleks yang mempunyai 2 fungsi yaitu hormonal dan reproduksi. Testis dikelilingi oleh kapsul jaringan ikat yang disebut tunika albuginea.  Tunika ini mengalami penebalan pada bagian posterior testis yang disebut mediastinum testis.  Testis dibagi menjadi ruang-ruang piramidal sebanyak sekitar 250 ruang yang disebut lobulus testis.  Diantara lobulus-lobulus terdapat septa (septa ini sering tidak sempurna).  Tiap-tiap lobulus terdapat 1-  4 tubulus seminiferus.  Testis diselubungi oleh kantong serosa yang berasal dari peritoneum yang dinamakan tunika vaginalis.  Tunika ini terdiri dari 2 lapisan yaitu lapisan viseral (bagian dalam) dan lapisan parietal.


 









Pada mulanya testis terdapat di dinding dorsal rongga peritoneum dan kemudian masuk ke dalam kantung yang disebut  skrotum. 
Ø Tubulus  Seminiferus
Tubulus seminiferus merupakan tubulus kontortus yang membentuk jala-jala,  berujung buntu dan pada ujung yang lain menjadi saluran yang lurus dengan lumen menyempit dan dibatasi oleh epitel selapis kubus berflagela satu.  Bentuk yang lurus ini dinamakan tubulus rektus.  Bagian ini pendek yang bermuara pada saluran-saluran yang beranastomose yang dinamakan rete testis.
Tubulus seminiferus terdiri dari  epitel germinativum,  lamina basalis dan tunika jaringan ikat fibrosa.  Epitelnya terdiri atas 2 jenis sel yaitu  sel sertoli dan sel –sel spermatogenik (tersusun atas 4-8 lapisan).  Urutan sel-sel dari lapisan yang paling dasar  hingga mendekati lumen adalah sebagai berikut spermatogonium,  spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid dan spermatozoa.  
Sel sertoli merupakan sel-sel piramidal panjang yang saling bertautan dengan sel-sel spermatogenik.  Dasar sel sertoli melekat pada lamina basalis,  sedang ujung apikalnya menjorok ke dalam lumen tubulus seminiferus.  Akibat adanya sel-sel spermatogenik di sisi lateral dan di sisi basalnya,  maka  bentuk sel sertoli menjadi tidak teratur. 
Sel-sel sertoli mempunyai 3 fungsi utama:
1.    pelindung, penyokong dan pengatur nutrisi sel-sel spermatogenik  yang sedang berkembang
2.    fagositosis,  yaitu dengan membuang kelebihan sitoplasma spermatid dalam proses spermiogenesis  (perubahan bentuk spermatid menjadi spermatozoa),
3.    sekresi,  yaitu sel-sel sertoli mensekresi sekret untuk transpor spermatozoa.
Ø Histologi Saluran Reproduksi Jantan
Saluran reproduksi jantan dibagi dua yaitu saluran intratestis dan saluran ekstra testis. Saluran intratestis meliputi tubulus rektus,  rete testis, vas eferens dan epididimis.  Saluran ekstratestis meliputi vas deferens dan urethra.
Tubulus rektus merupakan bagian akhir dari tubulus seminiferus yang merupakan saluran pendek yang lurus dengan lumen sempit.  Saluran itu dilapisi oleh sel epitel kubus dengan satu flagel.  Tubulus rektus bermuara pada rete testis yang merupakan saluran-saluran yang saling beranastomose. Rete testis terdapat pada bagian mediastinum testis.  Rete testis dilapisi oleh epitel kubus.  Dari rete testis keluar  10-20 vas eferens.  Vas eferens terletak dalam jaringan ikat epididimis.  Vas eferens dilapisi oleh epitel kubus dan berganti menjadi epitel kolumnar bersilia setelah mendekati epididimis.  Di bawah lapisan epitel terdapat lamina propria dengan jaringan ikat padat dan otot polos (lamina proprianya tipis.).
Epididimis  merupakan satu saluran panjang yang sangat berkelok-kelok,  dengan panjang sekitar 4-6 m.  Saluran yang panjang ini dengan jaringan ikat membentuk  korpus dan ekor epididimis.  Kaput epididimis berisi vas eferens. Epididimis dilapisi oleh epitel berlapis semu kolumnar dengan sel-sel kolumnar  yang sangat panjang dengan stereosilia yang panjang dan sel basal yang kecil. Lamina proprianya tipis  dengan jaringan ikat dan otot polos.  Segerombol spermatozoa dapat terlihat dalam lumen epididimis.
Vas deferens merupakan saluran lurus yang keluar dari  ekor epididimis. Saluran ini berdinding tebal terdiri dari lapisan mukosa yang tipis dan lapisan muskularis yang tebal dan dikelilingi oleh lapisan adventisia.  Lapisan epitelnya merupakan epitel berlapis semu kolumnar dengan stereosilia.. Sel kolumnarnya lebih pendek dibandingkan sel kolumnar epididimis.  Lapisan ototnya terdiri dari lapisan otot polos yang tipis dengan susunan longitudinal di bagian dalam dan luar dan tengahnya merupakan lapisan otot yang tebal dengan susunan sirkuler. Lapisan mukosanya pada vas deferens awal membentuk vili-vili sederhana,  tetapi pada bagian ampula,  vas deferens melebar,  dan terdapat vili-vili yang membentuk kripta-kripta yang bercabang-cabang sehingga lumennya semakin besar.   Bagian yang membentuk kripta-kripta itu merupakan kelenjar yang menghasilkan sekret yang penting untuk kehidupan spermatozoa.  Pada bagian akhir ampulla,  saluran itu bersatu dengan kelenjar vesikula seminalis  dan selanjutnya salurannya mengecil dan masuk ke dalam prostat dan bermuara pada urethra. Bagian yang masuk prostat dinamakan duktus ejakulatorius,   dengan lapisan mukosa sama dengan pada ampula tetapi tanpa lapisan otot. 
Ø Histologi  Kelenjar-Kelenjar  Reproduksi Jantan
Kelenjar-kelenjar reproduksi jantan meliputi vesikula seminalis, prostat dan bulbourethralis. Vesikula seminalis terdiri dari 2 saluran yang sangat berkelok-kelok dengan panjang 15 cm.   Lapisan mukosa dibatasi oleh epitel berlapis semu silindris. Lapisan epitelnya membentuk kripta-kripta yang saling beranastomose.  Epitel terdiri dari sel-sel basar dan lapisan sel kubus atau silindris pendek,  yang kaya dengan granula sekret.  Lamina proprianya kaya dengan serabut elastin dan dikelilinggi oleh lapisan otot polos yang tipis.  Pada  lapisan ototnya terdapat serabut-serabut saraf dan ganglia simpatis.  Sekresi yang tertimbun dalam kelenjar dikeluarkan waktu ejakulasi oleh kontraksi otot polos.
Prostat  merupakan kumpulan 30 – 50 kelenjar tubulo-alveoler bercabang yang saluran keluarnya bermuara pada urethra pars prostatika.  Prostat menghasilkan cairan prostat yang disimpan dan dikeluarkan pada waktu ejakulasi.  Prostat dikelilingi oleh kapsula fibroelastis yang kaya akan otot polos.  Kelenjar prostat dibagi menjadi 3 struktur yaitu kelenjar mukosa,  kelenjar submukosa dan kelenjar utama.  Kelenjar-kelenjar itu bermuara pada urethra pars prostatika.  Pada usia di atas 40 tahun,  kelenjar mukosa dan submukosa sering mengalami hipertrofi.  Hal ini dapat menyebabkan kerusakan urethra.
Kelenjar bulbouretralis  merupakan bentukan seperti kacang polong yang terletak di belakang uretra pars membranosa dan bermuara ke dalam uretra tersebut.  Kelenjarnya merupakan kelenjar tubuloalveoler.  Kelenjar dikelilingi oleh jaringan ikat dan otot lurik.   Unit sekresinya bervariasi struktur dan ukuran.  Kebanyakan merupakan alveoli dan yang lain merupakan tubular.  Sekresinya  terutama adalah mucus.  Sel-sel sekretori berbentuk kubus atau silindris pendek.
Kelenjar litter terletak di bawah lamina propria uretra dan di atas trabekula.  Kelenjar ini dilapisi oleh sel-sel epitel berlapis silindris  atau berlapis semu silindris,  dengan sel-sel superfisialnya menghasilkan mukus.
Ø Histologi Penis
Penis terdiri atas 3 massa silindris dari jaringan erektil,  uretra dan diluarnya diliputi dengan kulit (terdiri dari epidermis dan dermis). Jaringan erektil  meliputi sepasang korpus kavernosum dan korpus spongiosum yang di dalamnya terdapat uretra. 
Di  bagian luar korpus dikelilingi oleh jaringan ikat padat yaitu tunika albuginea.  Di  luar tunika albuginea  terdapat jaringan ikat longgar  dan   Di dalam korpus terdapat banyak trabekula  (gabungan jaringan ikat kolagen, elastin dan otot polos).  Di tengah korpus kavernosum  terdapat arteri.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, dkk., 2003. Biologi. Erlangga, Jakarta.

Junqeira, L.C. & Jose Carneiro, 1980. Basic Histology. Lange Medical Publications, California.

Raven, P.H., and Johnson, G.B., 1986. Biology. Times Mirror/ Mosby College Publishing.

Wikipedia, 2012. Histologi Sistem Pencernaan. http://id.wikipedia.org. diakses pada tanggal 22 Desember 2012, pukul 20.00 WITA.

Wikipedia, 2012. Histologi Sistem Reproduksi. http://id.wikipedia.org. diakses pada tanggal 22 Desember 2012, pukul 20.05 WITA.