BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Evolusi manusia atau Anthropogenesis merupakan bagian dari evolusi biologi yang mengenai munculnya Homo sapiens.
Ini merupakan subyek yang luas penyelidikan ilmiah yang berusaha memahami dan
menjelaskan bagaimana perubahan ini terjadi. Studi dari evolusi manusia
meliputi berbagai ilmu pengetahuan, terutama fisik antropologi, linguistik dan genetika (Wikipedia, 2012).

Sejak zaman
Renaisance di abad 17 lalu, manusia memasuki “dunia baru”, dunia yang
begitu berbeda dengan tatanan dunia sebelumnya. Alfin Tovler,
futurolog yang membagi tiga tahapan perkembangan peradaban manusia, menyatakan
bahwa manusia saat ini hidup di tengah periode masyarakat komunikasi yang
berlangsung sejak 1970 hingga sekarang. Dalam kehidupan di dunia baru ini
manusia mengalami proses transformasi – untuk tidak mengatakan revolusi seperti
yang diistilahkan oleh Franz Magnis – yang begitu cepat dan mencengangkan.
Hasil olah sains dan teknologi canggih yang diciptakan manusia membuat sesuatu menjadi mudah, tidak berjarak dan tidak
tersekat oleh waktu dan tempat. Semuanya dapat dilampaui oleh ilmu pengetahuan
dan teknologi. Hikmat Budiman dengan sinis menyatakan, bahwa canggihnya
kehidupan modern belum, bahkan tidak terjangkau oleh mimpi-mimpi paling liar
sekalipun pada masyarakat primitif (1997).
Kecanggihan ilmu pengetahuan sekarang
ini membuka ruang dan cakrawala baru dalam tatanan peradaban kehidupan manusia.
Betapa tidak, sesuatu yang dahulunya dianggap tabu, misteri dan merupakan
wilayah metafisis bahkan teologis, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi
menjadi riil dan lumrah. Sebagai contoh, sebut saja tentang penjelajahan
manusia ke semesta lain, seperti perjalanan ke bulan dengan hanya menggunakan pesawat ulang alik
baik yang berawak maupun yang tidak; rekayasa genetika; teknologi informasi,
komunikasi dan transportasi. Akan tetapi, betapapun manusia telah berhasil dan
terus berhasrat melakukan eksplorasi dan menguak tabir misteri cosmic, termasuk
dirinya, namun keberadaan manusia itu sendiri tetap saja menjadi misteri yang
hingga kini, bahkan entah sampai kapan perlu diuangkap.
Berbagai penemuan baru super canggih
produk ratio telah mampu merubah tatanan dan pola hidup yang dilakonkan
manusia, termasuk paradigma kehidupannya. Perubahan dimaksud sekaligus telah
menjadi pertanda keberhasilan manusia mengganti peran alam yang awalnya hadir
sebagai mitra dalam kehidupan di semeta ini kini menjadi objek eksploitasi
hanya dengan mengedepankan dalih demi kelangsungan hidup manusia dan demi
kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Seiring dengan perjalanan waktu,
manusia semakin terpesona dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
sebagai produk kerja ratio. Bahkan ironisnya, hanya dikarenakan berbagai
kemudahan dalam menjalankan aktivitas kehidupan sebagai tawaran dari ilmu
pengetahuan dan teknologi yang kian hari kian berkembang, manusia telah berani
meniscayakan “ratio” yang terbukti telah berhasil menghadirkan ilmu pengetahuan
dan teknologi, sehingga tanpa disadari seiring dengan itu pula ia telah
mereduksi keniscayaan realitas lainnya termasuk agama dengan berbagai elemen
spiritual yang terkandung di dalamnya.
Keterpesonaan akan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang berakhir pada peniscayaan terhadap ratio membuat
manusia memandang dan menghadirkan dunia dengan segala persoalannya sebagai
realitas yang sederhana. Oleh Yasraf Amir Pilliang dunia seperti itu
diistilahkan dengan dunia yang telah dilipat (2004). Hal ini disebabkan
oleh kenyataan betapa kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat
aktivitas hidup manusia semakin efektif dan efisien.
Dunia yang telah dilipat muncul
sebagai konsekwensi dari kehadiran berbagai penemuan teknologi mutakhir
terutama transportasi, telekomunikasi dan informasi, jarak-ruang semakin kecil dan semakin sedikit
waktu yang diperlukan dalam pergerakan di dalamnya, inilah pelipatan ruang-waktu.
Adalagi pelipatan waktu-tindakan, yakni pemadatan tindakan ke dalam satuan
waktu tertentu dalam rangka memperpendek jarak dan durasi tindakan, dengan
tujuan mencapai efisiensi waktu. Dahulu manusia melakukan satu hal dalam satu
waktu tertentu, seperti memasak, menyetir, membaca, menelepon dan lain-lain.
Kini, manusia dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu bersamaan, menyetir
mobil sambil menelepon, mendengar musik, makan dan sambil bicara.
Pada bagian lain ada pula miniaturisasi
ruang-waktu, dimana sesuatu dikerdilkan dalam berbagai dimensi, aspek, sifat
dan bentuk lainnya. Realitas ditampilkan melalui media gambar, fotografi,
televisi, film, video, dan internet. Sebagaimana yang dikatakan oleh Paul
Virilio yang dikutip Yasraf Amir Pilliang, bahwa ruang saat ini tidak lagi
meluas, tetapi mengerut di dalam sebuah layar elektronik. Jika ingin mengetahui
sesuatu yang riil, manusia dapat mencari dan menyaksikan melalui video, film,
televisi. Ingin tahu mendetail tentang sang bintang idola, maka orang tinggal
mengklik satu situs dalam internet, kemudian tampillah sang bintang dengan
ragam tentang dirinya, dan seterusnya. Demikianlah di antara beberapa gambaran
tentang pelipatan dunia oleh perkembangan teknologi mutakhir di bidang
transportasi, komunikasi dan informasi.
BAB II
ISI
Istilah manusia modern anatomis (MMA) dalam paleoantropologi
mengacu kepada individu awal dari Homo sapiens
dengan suatu penampilan yang konsisten dengan rentang fenotipe
pada manusia modern. Manusia modern anatomis berevolusi dari Homo sapiens purba pada masa Paleolitik Tengah, sekitar
200.000 tahun lalu. Munculnya manusia modern anatomis menandakan permulaan dari
subspesies Homo sapiens sapiens,
yaitu subspesies dari Homo sapiens yang mengikutkan semua manusia modern.
Fosil tertua yang ada pada manusia modern anatomis adalah Omo remains, yang berusia
196.000 tahun yang terdiri dari dua tengkorak yang berbeda, dan juga tulang
tangan, kaki, telapak kaki dan pinggang (Wikipedia, 2012).
Fosil yang lain termasuk Homo sapiens idaltu dari Herto di Etiopia
yang berusia 150.000 tahun dan peninggalan dari Skhul di Israel yang
berusia 90.000 tahun (Wikipedia,
2012).
Ø
Anatomi

Manusia modern anatomis
dibedakan dari leluhurnya langsung, Homo sapiens purba, lewat sejumlah
fitur anatomis. Homo sapiens purba memiliki kerangka yang kokoh,
mengindikasikan bahwa mereka hidup bergantung kepada fisik; ini bisa berarti
bahwa manusia modern anatomis, dengan rangka yang ramping, menjadi lebih
bergantung kepada teknologi daripada kekuatan fisik untuk memenuhi tantangan
lingkungan (Aingindra, 2012).
Homo sapiens purba juga memiliki bubung alis (tonjolan
lapisan tulang di atas rongga mata). Dengan
munculnya manusia modern anatomis, bubung alis secara signifikan berkurang, dan
pada manusia modern mereka, rata-rata, samar-samar terlihat. Fitur pembeda
lainnya dari MMA adalah tonjolan dagu, sesuatu yang tidak ada pada Homo
sapiens purba (Wikipedia, 2012).
MMA umumnya memiliki dahi vertikal dimana
leluhur mereka memiliki dahi yang miring ke belakang. Menurut Desmond Morris, dahi yang
vertikal pada manusia tidak hanya menaungi otak yang besar, tapi tonjolan dahi
memainkan peran penting dalam komunikasi manusia lewat pergerakan alis mata
dan kerutan kulit dahi (Wikipedia,
2012).
Ø
Manusia Modern Awal

Omo, Hertho, Skhul, dan Peninggalan
Jebel Qafzeh terkadang disebut dengan "Manusia Modern
Awal" karena peninggalan kerangka mereka memperlihatkan campuran dari
ciri-ciri purba dan modern. Skhul V, sebagai contohnya,
memiliki bubung alis dan muka yang menonjol. Namun, tempat otak dari Skhul V
berbeda dengan Neanderthal dan mirip dengan tempat otak pada manusia modern. Di Eropa,
manusia modern awal adalah Cro-Magnon (Wikipedia, 2012).
Ø Asal
Usul Manusia Modern Dari Afrika
Asal-usul manusia modern dari Afrika adalah model
yang kini paling diterima dalam paleoantropologi
untuk menggambarkan asal-usul dan penyebaran dini manusia
modern. Teori ini disebut dalam pers bahasa Inggris model (Recent) Out-of-Africa ("keluar dari
Afrika"), dan dalam dunia akademis model Recent single-origin
hypothesis aatau RSOH ("hipotesa asal-usul tunggal yang baru"), Replacement
Hypothesis ("hipotesa penggantian") dan Recent African Origin
atau RAO ("asal-usul dari Afrika yang baru"). Hipotesa bahwa manusia
memiliki asal-usul yang tunggal (monogenesis) pernah dirumuskan Charles
Darwin dalam Descent of Man (1871).
Paham ini bersifat spekulatif sampai tahun 1980-an, ketika dibenarkan oleh
penelitian atas DNA mitokondria pada manusia masa kini,
dipadukan dengan bukti-bukti yang didasarkan pada antropologi fisik atas
spesimen kuno (Sains, 2012).
Penterjemahan genetika
dan bukti fossil
menunjuk bahwa perkembangan Homo sapiens purba menjadi manusia
hanya terjadi diAfrika,
antara 200 000 dan 150 000 lalu, bahwa anggota dari satu cabang dari Homo
sapiens meninggalkan Afrika antara 125 000 dan 60 000 tahun lalu, dan bahwa
dalam perjalanan waktu Homo sapiens tersebut menggantikan populasi
manusia yang lebih dini seperti manusia Neanderthal
dan Homo erectus.
Asal-usul tunggal manusia modern di Afrika Timur
adalah pandangan yang dipegang mayoritas masyarakat ilmiah. Ada teori yang
berbeda mengenai apakah terjadi satu hijrah atau lebih. Dalam model penyebaran
jamak termasuk teori Penyebaran Selatan, yang akhir-akhir ini mendapat dukungan
dari bukti-bukti genetika, linguistik dan arkeologis. Sejumlah peneliti yang kian besar juga menduga
bahwa "Afrika Utara yang lama diabaikan" adalah
tempat asal awal manusia modern yang pertama berhijrah dari Afrika (Sains, 2012).
Teori saingan yang paling
kuat adalah asal-usul
multiregional manusia modern, yang melihat segelombang Homo
sapiens berhijrah dari Afrika, kemudian berbaur dengan populasi
Homo erectus
setempat di beberapa kawasan bumi. Kebanyakan multiregionalis tetap melihat
Afrika sebagai sumber utama keanekaragaman genetik manusia, namun memperkirakan
peranan yang jauh lebih besar bagi pencampuran (Wikipedia, 2012).
Ø Asal
Usul Manusia Modern
Sebagaimana yang biasanya diberikan, ada dua
model utama mengenai subjek ini - Asal-usul terkini manusia modern dari
Afrika dan evolusi multiregional.
Perdebatan umumnya mempermasalahkan mengenai jumlah relatif penggantian
atau kawin-silang yang terjadi di area di luar Afrika, saat gelombang manusia
(atau leluhur manusia) keluar dari Afrika dan menempati area lainnya, dan
pentingnya hubungan dari gelombang terbaru sebagai bandingan dengan gelombang
yang lebih lama (Wikipedia, 2012)
Pandangan utama, yang dikenal dengan model
asal terkini dari Afrika, memegang bahwa semua atau hampir semua perbedaan
genetika manusia modern di seluruh dunia dapat ditelusuri kembali ke manusia
modern anatomis pertama yang meninggalkan Afrika. Model
ini didukung oleh beberapa garis bukti yang independen, seperti catatan fosil
dan genetika (Sains, 2012).
Secara sejarah, kritik terhadap pandangan
ini sering diberi tanda kurung mendukung "hipotesis
multiregional", yang popularitasnya memudar sejak awal 1990-an.
Beberapa kritik beralasan bahwa sejumlah garis keturunan genetika non-Afrika
mampu bertahan hidup di beberapa tempat di belahan dunia lewat kawin-silang
dengan manusia modern anatomis. Menurut versi kuat dari model multiregional
berbagai populasi manusia di seluruh dunia sekarang akan memiliki materi
genetika yang bertahan sampai sejauh manusia awal seperti Homo erectus.
Sekumpulan besar data dalam Evolusi
genetika manusia (Jobling, Hurles dan Tyler-Smith, 2004) mendukung
kuat model "Keluar dari Afrika".
Analisis dari orang-orang Eropa modern menyarankan bahwa tidak ada DNA mitokondria
(garis keturunan langsung) yang berasal dari Neanderthal
yang masih bertahan pada masa sekarang (Wikipedia, 2012).
Namun pengurutan terbaru dari gen
Neanderthal dan Denisovan memperlihatkan
beberapa pencampuran. Draf laporan pengurutan oleh Neanderthal
Genome Project pada bulan Mei 2010 mengindikasikan beberapa bentuk
hibridisasi antara manusia purba dan manusia modern telah terjadi setelah
manusia modern muncul dari Afrika. Diperkirakan 1 dari 4 persen DNA pada orang
Eropa dan Asia (yakni Prancis, Cina dan Papua proband) adalah non-modern, dan
berbagi dengan DNA
Neanderthal
purba dan bukan dengan Sub-sahara Afrika (yaitu Yoruba dan San proband).
Sementara orang Melanesia memiliki tambahan 1-6% berasal dari Denisovan (Wikipedia, 2012).
Secara praktisnya, kontroversi umumnya
mengenai periode spesifik dan proposal spesifik untuk periode
perkawinan-silang. Keberadaan dan pentingnya aliran gen
dari Afrika secara umum diterima, sementara kemungkinan adanya kasus tertutup
dari kawin-silang antara kedatangan orang sub-Sahara dan yang kurang
"modern" pada zaman (mereka) pada beberapa tingkat dalam prasejarah
tidak begitu kontroversial. Walau demikian, dan menurut penelitian
genetika, manusia modern tampak telah kawin dengan
"paling tidak dua grup" dari manusia purba Neanderthal
dan Denisovan (Sains, 2012).
Ø Perilaku
Manusia Modern
Ada banyak perdebatan
mengenai apakah manusia modern anatomis paling awal berperilaku sama dengan
yang baru atau manusia sekarang. Karakteristik perilaku manusia modern yang
terbaru termasuk bahasa modern yang penuh, kapasitas untuk
berpikir abstrak dan penggunaan simbolisme
untuk mengekspresikan kreativitas kultural. Ada dua hipotesis yang
menentang mengenai asal mula perilaku modern. Beberapa ahli beralasan bahwa
manusia mencapai modernitas secara anatomis terlebih dahulu, sekitar 200 kya, dan selanjutnya mereka mengadopsi
perilaku modern sekitar 50 kya. Hipotesis ini berdasarkan pada catatan fosil
yang terbatas dari periode sebelum 50 kya dan melimpahnya artifak manusia yang
ditemukan setelah 50 kya. Pendukung dari pandangan ini membedakan "manusia
modern anatomis" dengan "manusia modern secara perilaku” (Wikipedia, 2012).
Pandangan yang
berlawanan yaitu bahwa manusia mencapai perilaku dan anatomi modern secara
bersamaan. Sebagai contohnya, pendukung dari pandangan ini beralasan bahwa
manusia telah mengembangkan kerangka bentukan yang ringan selama transisi ke
anatomi yang lebih modern, dan hal ini hanya dapat terjadi lewat meningkatnya
kerjasama manusia dan penggunaan teknologi, ciri-ciri karakteristik dari
perilaku modern (Wikipedia, 2012).
Modernisasi adalah sebuah keniscayaan
sejarah yang pasti ada menyambangi sebuah peradaban manusia, tak perduli apakah
ia menghendakinya atau tidak. Menurut Franz Magnis, modernisasi adalah satu
revolusi kebudayaan paling dahsyat yang dialami manusia sesudah belajar
bercocok tanam dan membangun rumah. Modernitas bagaikan air bah yang terus
menerjang benteng-benteng kokoh mitologis masyarakat primitif dan menggantinya dengan bangunan baru yang
lebih rasional, kritis dan liberal. Modernisasi merupakan suatu proses raksasa
menyeluruh dan global. Tak ada bangsa atau masyarakat yang dapat mengelak dari
padanya.
Zaman Modern sendiri, masih menurut
Franz Magnis, diawali dengan ditemukannya 3 hal penting yaitu penemuan dan
pemakaian bubuk mesiu, mesin cetak dan kompas pada abad ke-15 M di Eropa.
Ketiga hal inilah yang menjadi pra-syarat terciptanya masyarakat modern berikutnya yang dimulai
dari belahan dunia Eropa. Penemuan dan pemakain bubuk mesiu berarti titik akhir
kekuasaan feodal yang dipusatkan dalam benteng-benteng feodalisme. Penemuan
mesin cetak menandakan telah dimulainya proses transformasi ilmu pengetahuan
sehingga dapat dikonsumsi oleh khalayak ramai, sehingga pengetahuan dan
interprtasi kebenaran tidak lagi menjadi hak monopoli satu golongan tertentu.
Dengan mesin cetak, pengetahuan baru yang ditemukan dari hasil eksplorasi para
saintis dapat dipublikasikan secara lebih luas, dengan demikian pengetahuan
menjadi inklusif karena dapat diakses oleh siapa saja. Kondisi ini memungkinkan
percepatan perubahan dalam satu komunitas peradaban karena telah terjadi
dinamisasi khususnya pada aspek peradaban intetektual. Di bagian lain, penemuan
kompas mengisyaratkan bahwa navigasi mulai aman, sehingga dimungkinkan melakukan perjalanan jauh guna menemukan,
membuka dan menjelajah dunia baru.
Tiga penemuan inilah yang menjadi dasar bagi
perkembangan peradaban manusia selanjutnya menjadi semakin dahsyat juga liar.
Karena tiga penemuan ini jugalah kemudian lahir tiga gerakan yang menjadi
landasan pembuka jalan ke dunia modern. Ketiga gerakan itu adalah gerakan
kapitalisme dengan teknik modern yang memungkinkan industrialisasi, subjektivitas manusia modern
dan rasionalisme.
Dari
ketiga gerakan di atas kemudian lahirlah modernisme sebagai anak dari karya
intelektual manusia. Ia menggurita dalam tiap aspek kehidupan manusia. Banyak
penemuan-penemuan ilmiah baru yang mencengangkan dan membelalakkan mata manusia
awam. Dimulai dari penemuan Nicolaus Copernicus (1473-1543), seorang
ilmuan yang mengumandangkan teori bahwa matahari sebagai pusat tata surya (helio
sentris), Johanes Kepler (1571-1630) yang menemukan hukum gerak planet,
Galileo Galilei (1564-1626), dan sederet nama-nama lainnya. Sejak abad
ini, dimulailah satu proyek besar ambisius oleh masyarakat barat, yaitu apa
yang mereka sebut dengan modernisasi.
Menurut Lawrence,
secara terminologi kemoderenan dapat dipahami sebagai sebuah kondisi atau
keadaan dimana muncul serangkaian perubahan dan peningkatan dalam kehidupan
manusia, mulai dari sistem birokrasi, rasionalisasi, kemajuan dalam bidang
teknis dan pertukaran global yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia era
pra-modern. Lawrence berupaya mengambarkan modernisme sebagai “pencaharian
otonomi individu, menekankan pada
perubahan nilai secara kuantitas, efisiensi dalam produksi, dan kekuatan serta
keuntungan di atas simpati terhadap nilai-nilai tradisional atau lapangan
pekerjaan dalam ruang publik maupun pribadi. Keberhasilan tersebut –technical
capacities dan global exchange—merupakan konsekuensi material dari
ideologi modernisme, yang kemudian memarginalisasikan peran agama. Dari sini
kemudian muncul perdebatan dimana orang banyak mendudukkan modernisasi vis-a-vis agama.
Ø Anomali
Modernitas
Adalah
hal yang tak terbantahkan, bahwa sains dengan penemuan-penemuan spektakulernya
membawa berkah bagi kehidupan manusia berupa kemudahan dalam menjalankan
aktivitas kehidupan. Saat ini kita dapat merasakan bahwa hampir semua pekerjaan
dapat dikerjakan oleh mesin mulai dari yang paling berat, rumit dan sulit
hingga yang paling sederhana, gampang dan mudah. Dalam tiap ritme kehidupan,
kita selalu dikelilingi oleh mesin, seolah kita tidak bisa hidup tanpanya
sebagaimana sebagai makhluk seorang makhluk sosial, kita tidak dapat hidup
tanpa manusia lainnya di sekeliling. Demikian adanya bahwa mesin memudahkan,
membuai dan memanjakan kehidupan kita. Tetapi sekali lagi kita mesti ingat
bahwa modernitas adalah produk ambigu manusia yang menghadirkan dua sisi berhadap-hadapan.
Di
satu sisi, modernitas menghadirkan dampak positif dalam hampir seluruh konstruk
kehidupan manusia. Namun pada sisi lain, juga tidak dapat ditampik bahwa
modernitas punya sisi gelap yang menimbulkan akses negatif yang sangat bias.
Dampak paling krusial dari modernitas menurut Budi Munawar Rahman, adalah
terpinggirkannya manusia dari lingkar eksistensi (Komarudin Hidayat & Wahyu
Nafis,1995). Menurutnya, manusia modern melihat segala sesuatu hanya berdasar
pada sudut pandang pinggiran eksistensi. Sementara pandangan tentang spiritual
atau pusat spritualitas dirinya, terpinggirkan. Makanya, meskipun secara
material manusia mengalami kemajuan yang spektakuler secara kuantitatif, namun
secara kualitatatif dan keseluruhan tujuan hidupnya, manusia mengalami krisis
yang sangat menyedihkan. Dengan mengutip Schumacher dalam bukunya “A Guide
for the perplexed”, manusia kemudian disadarkan melalui wahana krisis
lingkungan, bahan bakar, ancaman terhadap bahan pangan dan kemungkinan krisis
kesehatan.
Awal
mula krisis eksistensial ini sebagaimana yang pernah ditulis oleh Huston Smith
dalam bukunya “Kebenaran yang Terlupakan” adalah saat seorang filsuf Perancis
Rene Descartes (1596-1650) mempublikasikan karyanya yang berjudul “Discourse
on Method of Rightly Conducting the Reason and Seeking the Truth in the Science“.
Dalam karyanya ini Descartes dengan jargon Cogito ergo sum” (aku
berpikir maka aku ada) ingin mengungkapkan bahwa alam adalah sesuatu yang
terpisah dari manusia sebagai subjek berpikir. Tidak ada yang tidak dapat
diketahui manusia jika ia mau menggunakan pikirannya. Menurut Hikmat Budiman,
filsafat Descartes ini dipandang sebagai penghulu terjadinya cara berpikir
dualisme, dimana ia telah menghadirkan sebuah distinksi atau perbedaan atau
pemisahan antara subjek (res cogitant) sebagai yang berpikir dan objek (res
extensa) yang berada di luar. Di antara keduanya dijembatani dengan ilmu
pengetahuan alam atau wacana (ergo).
Hal ini berkonsekuensi pada terjadinya superioritas subjek terhadap
objek, sesuatu dikatakan ada atau tidak ada, tergantung pada dipikirkan atau
tidak dipikirkannya oleh subjek. Jika sebelumnya alam dikaitkan dengan
eksistensi kekuasaan Yang Maha Agung (Tuhan) yang kemudian termanifestasi dalam
figur totem, taboo, animisme, dinamisme bahkan agama, maka metodologi eklektis
Cartesian kemudian menjadikan akal sebagai avant-garde eksistensi
manusia di hadapan alamnya. Manusia dengan akalnya merasa mampu membedah alam,
untuk kemudian menundukkannnya, sehingga alam hanya dijadikan sebagai objek
yang dipikirkan (res extansa). Ini kemudiaan disebut oleh Imanuel
Levinas, dijuluki sebagai egologi, yaitu ilmu pengetahuan yang berkutat
dengan ego manusia.
Kerangka
filosofis tersebut yang kemudian mendudukkan alam (nature) sebagai
subordinasi dari manusia atau inferior vis
a vis manusia (res cogitant).
Supremasi ilmu pengetahuan alam dan semangat aufklarung ini yang
kemudian memunculkan semangat kapitalisme dan kemudian imperialisme. Hal tersebut dapat kita pahami melalui
persfektif teori sistem dunia dan teori ketergantungan.
Pada
persoalan lain, secara ekstrem sebenarnya modernitas mengancam eksistensi
kemanusiaan. Betapa tidak, dengan ditemukan dan dipakainya bubuk mesiu pada
akhir abad ke-15 lalu di Eropa, maka bermunculan senjata-senjata canggih
pemusnah massal. Beberapa tragedi dalam lintasan sejarah seperti pengeboman oleh tentara Amerika
dengan bom atom di Nagashaki dan Hirosima, penggunaan gas sarin oleh sekte Aom
Shinrikyu di stasiun kereta api bawah tanah yang menewaskan banyak orang,
tragedi WTC dan masih banyak lagi peristiwa lainnya, ini adalah ciri peperangan pada abad modern yaitu memusnahkan secara
massal. Mungkin kita juga masih diingatkan dengan peristiwa ledakan pabrik
kimia di Bhopal, India, pada bulan September 1984, atau yang terjadi pada
perusahaan nuklir di Chernobyl, di bekas Uni Soviet, pada bulan April 1986,
semua menelan korban jiwa yang tidak sedikit.
Pada
aspek lingkungan, kita juga mencatat betapa teknologi sangat tidak bersahabat
dan mempunyai konstribusi signifikan terhadap kerusakan lingkungan. Lapisan
ozon yang telah menipis akibat efek dari banyaknya rumah kaca dan polusi udara
yang dihasilkan oleh pabrik serta kendaraan bermotor, hutan yang gundul, pantai
yang mengalami abrasi, air sungai yang terkontaminasi dan lain sebagainya
adalah akibat logis dari modernitas. Pada ranah ini, tidak hanya eksistensi
manusia yang terancam tetapi juga alam secara makro. Sederhananya bahwa alam
telah terekploitasi sedemikian bejadnya oleh interest rakus para individu
penjelajah harapan dengan mengatasnamakan kepentingan kemanusiaan. Eksploitasi
yang tidak logis dan berimbangan ini sejatinya telah merusak relasi arif antara
meta cosmic, makro cosmic dan mikro kosmic yang dahulunya saling
berdialektika dalam satu relasi interdependensi.
Lain
lagi menurut Erich From dalam bukunya “The Revolution of Hop” bahwa
dalam kehidupan manusia modern di tengah-tengahnya ada “hantu”. Terma hantu
yang dipakai dan dimaksudkannya di sini adalah ilustrasi terhadap pola
masyarakat yang dimesinkan secara total,
manusia adalah mesin yang mekanis. Totalitas kehidupannya dicurahkan untuk
meningkatkan produksi dan konsumsi material, yang dalam prosesnya -lebih
ironis- bahwa ia diarahkan oleh komputer-komputer (baca: mesin). Manusia tidak
lagi berfungsi sebagai manusia yang utuh. Dalam
proses sosial semacam ini manusia
menjadi bagian dari mesin, diberi makan dan hiburan yang cukup, tetapi
pasif, tidak hidup dan nyaris tanpa perasaan.
Semua persoalan dalam konteks ini ditinjau dari perspektif material,
padahal menurut Plato, seorang filosof Yunani, manusia adalah konfigurasi dari
dua realitas tak terpisahkan yakni fisik yang mengambil bentuk material dan
psikis yang mengambil bentuk jiwa atau spirit. Artinya, mengabaikan atau
memprioritaskan salah satunya sama artinya dengan menjadikan manusia bukan
manusia sebenarnya.
Hal
lain yang juga telah menjadi karakter manusia modern yang materialistik oriented adalah budaya pragmatisme dan hedonisme.
Pragmatisme1 adalah cara pandang yang
melihat sesuatu dari nilai manfaat yang dapat dihasil dari sesuatu. Jika ia
bermanfaat secara praktis material, maka ia dianggap kebenaran yang bernilai.
Demikian juga dengan budaya hedonisme,
totalitas kehidupan semuanya diorientasikan untuk sebuah kenikmatan.
Kebahagiaan tertinggi adalah karena akumulasi yang banyak dari kenikmatan
material, dan sebaliknya kesengsaraan adalah disebabkan manusia tidak menemukan
kenikmatan. Motto yang paling terkenal dari kaum hedonis adalah “hidup untuk
hari ini”. Dari sini dapat diasumsikan bahwa apa saja menjadi legal dan pantas
demi sebuah kenikmatan. Pada proses selanjutnya dapat dipastikan bahwa akan terjadi
peminggiran terhadap beberapa sisi dari kemanusian itu sendiri, terutama persoalan moralitas juga
etika.
Dalam
ranah empiris kemudian dapat kita temukan betapa banyak hari ini
penyakit-penyakit sosial yang terjadi di masyarakat, mulai dari pelecehan
seksual, pemerkosaan, pengkonsumsian obat-obat terlarang, minuman keras,
aborsi, perilaku sadisme dan perilaku-perilaku kriminal lainnya yang kesemuanya
menghiasi wajah gelap modernitas. Itulah di antara beberapa anomali yang
include dalam modernitas itu sendiri dimana kesemuanya ternyata sangat potensial
untuk memberangus sisi-sisi eksistensial kemanusiaan. Sebagai kesimpulan
sementara dapat dikatakan, bahwa
kemajuan secara kuantitatif material yang dicapai oleh modernitas, tidak
diiringi dengan kemajuan kualitatif.
Modernitas dengan sederet anomalinya tersebut sedikit banyak telah
mengabsurdkan beberapa sisi sejati dari manusia pemujanya. Absurditas inilah
yang selanjutnya menyebabkan manusia modern salah orientasi dalam memaknai
hakikat hidup yang ia jalani.
BAB III
PENUTUP
Sebagai akhir dari bentangan ini, penulis mencoba
merefleksikan apa yang pernah ditawarkan oleh seorang filsuf berkebangsaan Swiss Jean Jacques
Rousseau (1712-1778) saat ia menjawab sebuah pertanyaan “Apakah kemajuan seni
dan ilmu pengetahuan memberikan konstribusi terhadap pemurnian moralitas
manusia?” Pertanyaan dalam sebuah sayembara ini ternyata bagi Rousseau
membukakan kesadaran nalarnya bahwa terlalu banyak keganjilan yang terjadi
dalam tata kehidupan masyarakat pada waktu itu. Hasil perenungannya di bawah
pohon ternyata sangat mengejutkan banyak pihak. Ia katakan bahwa kemajuan dalam
bidang seni juga ilmu pengetahuan sesungguhnya tidak membuat manusia semakin
beradab alias tidak membuat moralitas manusia semakin murni (Russel,2004).
Justru sebaliknya, bahwa kemajuan peradaban akal budi semakin membuat kehidupan
manusia tercerabut dari keharmonisan yang sungguh merupakan watak awalnya.
Dalam tulisan panjangnya ia mengatakan, bahwa klaim kemajuan peradaban bangsa
Prancis saat itu semu belaka karena hanya kemajuan pada ranah material
kuantitatif yang terjadi, tetapi
tidak pada ranah kualitatif. Di antara
indikatornya adalah bahwa raja (penguasa) semakin bar-bar melakukan eksploitasi
pada rakyat dengan melakukan penarikan pajak secara semena-mena, sementara
kalangan mereka sendiri terbebas dari beban tersebut. Wal hasil, kemajuan hanya
dapat dinikmati segelintir kelompok saja yakni bagi mereka yang mempunyai akses
kekuasaan juga kekayaan. Kesimpulannya bahwa kemajuan hanya membuat manusia
semakin terperosok dalam keterasingan akan diri mereka yang sebenarnya.
Menurutnya,
sebelum manusia membentuk komunitas dengan perangkat-perangkat yang terlembaga,
kehidupan manusia berjalan sangat harmoni. Terjadi relasi yang saling
ketergantungan antara manusia, alam dan Yang Kuasa. Pada dasarnya watak manusia
secara alamiah adalah baik. Ia mempunyai sifat-sifat yang lugu, jujur, toleran
dan bersahaja sebagai sifat yang tidak dibuat-buat. Tetapi kemudian karena
muncul pelembagaan, mulailah secara perlahan klaim-klaim. Klaim hak milik, klaim
kelompok paling benar, paling superior dan seterusnya. Di sinilah kemajuan
menjadi tersangka sebagai biangkerok tercerabutnya sifat alamiah manusia yang
adi luhung. Sebagai tawarannya, Rousseau mengajak untuk kembali ke alam (retoyr
a la nature).
Dalam
konteks kenestapaan manusia modern terhadap absurditas yang mereka rasakan,
rasanya masih sangat relevan apa yang ditawarkan oleh Rousseau tersebut. Hanya
saja, jika 257 tahun yang lalu Rousseau mengajak kembali ke alam, maka tawaran
agar manusia berubah dalam rangka mengembalikan citra kemanusiaanya melalui
kearifan nilai relegiusitas (spiritual) adalah konteks tawaran yang tepat terhadap masalah keterpinggiran manusia
moderen dalam lingkaran eksistensinya. Kembali kepada spiritualitas di tengah
kepongahan modernitas adalah mengembalikan rasa kehadiran Yang Suci di
tengah-tengah moralitas manusia yang sejatinya memang telah dititipkan oleh
Yang Suci pada tiap diri manusia. Spiritualitas adalah infinite idea yang
inheren dalam totalitas kemanusiaan manusia. Mengingkarinya berarti mengingkari
kedirian sebagai seorang manusia.
Sejarah
membuktikan tentang hal ini, bahwa manusia mustahil hidup tanpa nilai spiritual
yang ia akui sebagai Yang Maha Agung, dan yang dapat memenuhi kebutuhan
spiritual manusia itu hanya agama. Sistem ideologi apapun yang ditegakkan oleh
manusia seraya menafikan kenyataan bahwa manusia tidak melulu materi pasti akan
mengalami krisis bahkan kehancuran. Manusia mungkin dapat hidup dalam sistem
yang baru, namun jiwanya tetap dikendalikan oleh fitrah-fitrah yang tidak dapat
dijelaskan dan dipuaskan secara materialistik. Hanya agamalah yang dapat
menjelaskan dan memuaskannya. Alih-alih berkehendak untuk tidak bertuhan dan
tidak mengakui nilai-nilai metafisik, justru hal ini akan memunculkan satu
sistem agama baru dimana sang penggagas menjadikan diri dan konsepnya sebagai
tuhan. Tentu kita berpikir betapa primitif dan tidak jelasnnya ide ketuhan
seperti ini. Tetapi seprimitif dan tidak jelas bagaimanapun ide tersebut, bahwa
manusia tidak dapat menghindar dari ide tentang Tuhan.
Namun
tidak semua agama relevan untuk ditawarkan pada masyarakat modern, hal ini
disebabkan karena manusia modern yang sangat mengagungkan hasil pengembaraan
intelektual tidak akan mudah menerima begitu saja suatu sistem
kepercayaan. Hanya agama yang tidak
menafikan peran rasiolah yang akan bertahan disamping kemampuannya memenuhi
kebutuhan spiritualitas yang tidak diberikan oleh ilmu pengetahuan dan
teknologi. Di samping itu watak masyarakat modern yang tanpa batas mengharuskan
sebuah sistem ideologi – termasuk agama – yang dapat bertahan hanyalah yang
dapat menghargai berbagai sistem ideologi lain yang berbeda. Inilah barangkali
model keberagamaan masa akan datang yang menghadirkan sisi spiritualitas lebih
dalam. Spiritualitas seperti inilah yang sejatinya memberikan bingkai secara
idiologis kejatidirian manusia dari serangan kehampaan dan keterasingan yang
ditawarkan oleh nilai modernitas. Tetapi manusia modern mesti hati-hati dan
arif, karena tidak semua tawaran spiritualitas baru memuarakan pada puncak
spiritualitas sebenarnya. Spiritualitas sekular misalnya, spiritualitas ini
mengandung kesalahkaprahan karena menyandarkan rasa spiritual kepada sesuatu
yang tidak pantas memberikan sandaran. Sesuatu yang Tak Terbatas, Tak
Berhingga, Tak Terjangkau, Transenden, Wajah Suci dan lain sebagainya adalah
beberapa simbol yang sebenarnya layak untuk itu.
Menghadirkan
yang Transenden adalah kemestian di saat kenestapaan sedang kita alami.
Persoalannya kemudian adalah apakah kita mau jujur menghadirkan spirit yang Transenden tersebut,
karena ia sungguh telah hadir dengan sendirinya disaat bersaman kita menjadi
manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Franz Magnis Suseno, 1995, Filsafat Sebagai Ilmu
Kritis, Cet. IV, Yogyakarta : Kanisius.
FROMM,
Erich, 1996, The Revolution of Hope,
terj. Kamdani, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Hikmat
Budiman, 1997, “Pembunuhan yang
selalu gagal”, Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Komaruddin
Hidayat & Wahyuni Nafis, 1995, “Agama Masa Depan, perspektif filsafat
perennial”, Jakarta : Paramadina.
Listiyono Santoso, dkk., 2003, Epistimologi Kiri, Yogyakarta :
Ar-Ruzz.
NAISBITT,
John, Patricia Aburdene, 1990, “Megatrends 2000 (Ten new directions for the
1990’s)”, New York Avon book.
Nurcholish
Madjid, 1995, Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta : Paramdina.
RUSSELL,
Bertrand, 2004, Sejarah Filsafat Barat; Kaitannya Dengan Kondisi
Sosio-politik Zaman Kuno Hingga Sekarang, terj. Sigit Jatmiko dkk., Yogyakarta
: Pustka Pelajar.
SMITH,
Huston, 2001, Kebenaran yang Terlupakan Kiritik atas Sains dan Modernitas, terj.
Inyiak Ridwan Muzir, Yogyakarta :
IRCiSoD.
TITUS,
Harold H., etc., 1984, Persoalan-persoalan Filsafat, terj. Rasidi,
Jakarta : Bulan Bintang.
Wikipedia,
2012. Evolusi Manusia Modern. http://id.wikipedia.org.evolusi-manusia-modern, diakses pada tanggal 26 November
2012, pukul 20.00 WITA.
Yasraf
Amir Pilliang, 2004, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas
Kebudayaan, Yogyakarta : Jalasutra.
Zakiyah
Darajad, 1976, Membina Nilai-nilai Moral di Indonesia, Jakarta : Bulan
Bintang.
Poker at PlayNJ Casino - BSEEon.net
BalasHapusPlayNJ is an online 생방송바카라 casino for 검증 사이트 먹튀 랭크 NJ players that offers a variety of games including 가상 화폐 추천 Blackjack, Roulette, Craps, and more. Check out 파라오 바카라 our 켈로나 개조 FAQ and Login to claim
Play at Vegas' Old Casinos - MapYRO
BalasHapusPlay at the Old Casinos. The oldest and most 양주 출장마사지 popular casinos in the world. 이천 출장안마 Discover the oldest casinos 평택 출장안마 in 진주 출장마사지 Las Vegas, along 전라북도 출장마사지 with the newest gaming